Gereja Timur (Doğu Kilisesi) adalah tradisi Kristen Suryani Timur yang berkembang di Mesopotamia di bawah kekuasaan Partia, lalu Sasaniyah, di sebelah timur Kekaisaran Romawi. Para pedagang, biarawan, dan jaringan uskup menyebarkannya melintasi Asia Tengah hingga Tiongkok. Sementara itu, jalur laut menghubungkan komunitasnya dengan India.
Bagaimana gereja yang berpusat di Seleukia-Ktesifon ini bisa hadir di Chang’an, ibu kota Dinasti Tang? Anda dapat menelusuri hubungannya melalui prasasti berbahasa Sogdia, pelabuhan Persia, dan monumen yang didirikan di Xi’an pada 781. Jejak-jejak itu juga menjelaskan mengapa sebutan “Nestorian” yang sudah dikenal luas perlu digunakan dengan cermat.
Bagaimana Gereja Timur berkembang di Kekaisaran Sasaniyah?
Gereja ini tumbuh di Mesopotamia di bawah pemerintahan Partia, lalu Sasaniyah. Perkembangan awalnya berlangsung di sebelah timur Kekaisaran Romawi. Latar ini penting. Lembaga-lembaganya berkembang dalam sebuah kekaisaran yang penduduk Kristennya dapat dituduh setia kepada Roma.
Perpindahan paksa turut memperbesar komunitasnya. Selama kampanye militer Syapur I pada abad ke-3, para perajin Kristen dideportasi dari Antiokhia dan wilayah Romawi lainnya ke Iran. Orang-orang Kristen yang dipindahkan ini menambah jumlah penduduk Kristen di wilayah Sasaniyah.
Di bawah Syapur II, penganiayaan dimulai pada 339 dan berlangsung sekitar empat puluh tahun. Orang-orang Kristen di Iran menjadi sasaran di tengah tuduhan kesetiaan kepada Roma. Karena itu, hubungan antara komunitas Kristen dan penguasa Sasaniyah menjadi bagian dari sejarah kelembagaan gereja ini.
Sinode Seleukia-Ktesifon pada 410 dibuka dengan doa bagi Yazdegerd I. Sinode ini menerima pernyataan iman Konsili Nikea tahun 325. Ketetapannya mencantumkan enam provinsi gerejawi, termasuk Ray dan Abarshahr.
Pada 410, Katolikos Ishak diakui sebagai pemimpin komunitas Kristen sekaligus wakilnya di hadapan penguasa Sasaniyah. Pada 424, para uskup yang bersidang di bawah Dadisho memutuskan bahwa sengketa gereja tidak boleh dibawa kepada otoritas keagamaan di luar gereja mereka yang berada di Kekaisaran Romawi. Keputusan ini mendahului pengutukan Nestorius pada 431.
Mengapa disebut Nestorian dan mengapa sebutan itu diperdebatkan?
Konsili Efesus mengutuk Nestorius pada 431. Gereja Timur menolak mengutuknya. Akibatnya, para penentang menyebut gereja ini “Nestorian”. Sebutan itu muncul dari perselisihan tersebut. Sebutan ini tidak menggambarkan perkembangan awal gereja di Mesopotamia di bawah kekuasaan Partia dan Sasaniyah.
Masalah teologisnya terletak pada makna yang dapat tersirat dalam sebutan itu. Istilah “Nestorian” pernah digunakan untuk menyatakan bahwa gereja ini mengajarkan adanya dua pribadi terpisah dalam Kristus. Baum dan Winkler menilai gambaran tersebut keliru secara teologis. Karena itu, Anda perlu membedakan penggunaan historis sebutan tersebut dari ajaran yang seolah-olah dilekatkan kepadanya.
Para penulis dari gereja ini juga menentang sebutan tersebut. Dalam Kitab Mutiara yang ditulisnya pada 1298, Abdisho bar Brika menolak sebutan itu. Ia menegaskan bahwa Nestorius tidak pernah menjadi patriark mereka. Keberatannya menunjukkan bahwa penolakan terhadap sebutan tersebut juga muncul dari dalam tradisi ini sendiri.
Apa perbedaan tradisi Suryani Timur, Gereja Ortodoks Suryani, dan Gereja Ortodoks Timur?
Gereja Timur termasuk dalam tradisi Suryani Timur. Gereja Ortodoks Suryani termasuk dalam tradisi Suryani Barat. Keduanya memiliki tradisi liturgi dan kelembagaan gereja yang berbeda, meskipun sama-sama memakai kata “Suryani”.
Sejarah teologi mereka juga berbeda. Tradisi Ortodoks Suryani menganut Miafisitisme. Ortodoksi Timur, yang berakar pada tradisi Bizantium, menerima Konsili Kalsedon tahun 451. Gereja Timur mengembangkan tradisi Kristologi tersendiri.
Pada abad ke-7, Babai Agung mengajarkan bahwa dua qnoma Kristus bersatu dalam satu parsopa. Istilah-istilah Suryani ini tidak sepenuhnya sepadan dengan konsep teologi Yunani. Menerjemahkannya seolah-olah memiliki padanan langsung dapat mengaburkan ajaran yang sedang dijelaskan.
Sebuah kesepakatan yang muncul kemudian membantu menjelaskan istilah-istilah yang diperdebatkan ini. Pada 11 November 1994, Yohanes Paulus II dan Mar Dinkha IV menandatangani deklarasi bersama. Deklarasi itu menegaskan persatuan keilahian dan kemanusiaan Kristus dalam satu pribadi. Dokumen ini menjadi acuan konkret untuk memahami persoalan tersebut di samping perdebatan-perdebatan lama.
Bagaimana Gereja Timur mencapai India, Asia Tengah, dan Tiongkok melalui jaringan Jalur Sutra?
Penyebaran gereja ini melibatkan jalur darat dan laut. Perjalanan dagang orang Kristen Sogdia terdokumentasi melalui tanda salib yang disertai prasasti berbahasa Sogdia pada bebatuan di Drangtse, Ladakh. Tanda-tanda ini menghubungkan kehadiran Kristen dengan orang-orang yang bepergian melalui jaringan perdagangan Asia.
Para pemimpin gereja mendukung misi ke arah timur. Selama menjabat sebagai patriark pada 780–823, Timotius I mengirim para misionaris ke timur. Ia juga menahbiskan uskup metropolit untuk bangsa Turk dan Tibet. Dengan demikian, penyebaran gereja melibatkan pengangkatan pejabat oleh otoritas gereja serta perjalanan orang-orang Kristen secara perorangan.
Hubungan dengan India mengikuti jalur laut. Anggota Gereja Timur ikut dalam perdagangan maritim yang menghubungkan pelabuhan Iran dengan India dan Sri Lanka. Mereka memanfaatkan jaringan transportasi yang menghubungkan gereja-gereja di seberang perairan tersebut.
Bayangkan sebuah paket sehari-hari yang berpindah melalui titik-titik pengiriman yang saling terhubung. Bagi gereja ini, pelabuhan dan pusat gerejawi membantu menghubungkan komunitas yang berjauhan. Uskup metropolit Rēw Ardašīr, sebuah pelabuhan di Fars, bertanggung jawab menahbiskan uskup bagi orang-orang Kristen di India. Anda dapat melihat bahwa jalur laut juga menyalurkan kewenangan gereja, selain mengangkut para pelancong.
Kisah kedatangannya di Tiongkok tersimpan pada monumen Xi’an. Menurut narasinya, uskup Persia Alopen tiba di Chang’an, ibu kota Dinasti Tang, pada 635 dan diterima di istana kekaisaran. Monumen yang mencatat kedatangan ini didirikan pada 781.
Pada 638, Kaisar Taizong memerintahkan pembangunan sebuah biara bagi Alopen dan para biarawannya. Ia juga memerintahkan penyebarluasan teks-teks suci yang mereka bawa. Menurut monumen tersebut, teks-teks Kristen itu diterjemahkan di perpustakaan kekaisaran dan diperiksa oleh Taizong.
Monumen Xi’an memadukan teks berbahasa Tionghoa dengan tulisan Suryani. Didirikan pada 781, monumen ini memperingati sekitar 150 tahun kehadiran Suryani Timur di ibu kota Dinasti Tang. Bahasa-bahasanya mengabadikan hubungan antara tradisi Suryani gereja ini dan lingkungan Tiongkok tempatnya berkembang.
Detail yang tidak akan Anda temukan dalam buku panduan
Sebuah salib di gereja Suryani di Kottayam, Kerala, memuat prasasti Pahlavi. Salib itu menyimpan bukti material hubungan dengan Iran. Bersama tanggung jawab Rēw Ardašīr atas para uskup di India, salib ini menjadi wujud nyata hubungan maritim tersebut.
Di Afrasiyab, dekat Samarkand, dua wadah tulang berhias salib mengisyaratkan bahwa sebagian orang Kristen Sogdia tetap menjalankan praktik pemakaman tetangga mereka yang beragama Zoroaster. Benda-benda ini menunjukkan bahwa identitas Kristen hadir berdampingan dengan adat setempat yang diwariskan.
Di Pulau Kharg, Teluk Persia, sebuah biara yang ditata mengelilingi gereja memiliki sekitar enam puluh sel biarawan. Setiap sel terdiri atas tiga ruangan kecil. Reruntuhannya memberi gambaran konkret tentang ruang yang dihuni sebuah komunitas biara.
Sebuah perpustakaan manuskrip Kristen yang tersisa dalam fragmen ditemukan di dekat Bulayïq pada 1905. Ekspedisi Turfan dari Jerman yang dipimpin Albert von Le Coq menemukannya sekitar sepuluh kilometer di utara Turfan. Koleksinya mencakup teks berbahasa Suryani, Sogdia, Turki, dan Persia.
Salah satu fragmen Bulayïq memuat bagian awal sebuah mazmur berbahasa Yunani yang ditulis di atas terjemahannya dalam bahasa Sogdia. Jika Anda membayangkan gereja ini hanya melalui sebutan Suryani, bukti manuskrip tersebut menambahkan beberapa bahasa ke dalam gambaran itu. Koleksi yang bertahan mencatat kehidupan Kristen yang multibahasa.
Komunitas mana yang meneruskan warisan sejarahnya?
Gereja-gereja hasil penggalian di Hira, yang berasal dari abad ke-7 atau mungkin abad ke-6, tetap digunakan setelah penaklukan Muslim. Penggunaannya yang berlanjut merupakan salah satu contoh bertahannya lembaga Kristen setelah pergantian kekuasaan politik.
Gereja Timur mengalami masa penyebaran lain di Kekaisaran Mongol pada abad ke-13 dan ke-14. Pada abad ke-14, perpecahan dunia Mongol dan Islamisasi menyertai kemunduran komunitas-komunitasnya di Asia Tengah.
Warisan Suryani Timurnya berlanjut dalam Gereja Asiria Timur dan Gereja Timur Kuno. Warisan itu juga berlanjut dalam Gereja Katolik Kaldea dan Gereja Siro-Malabar. Komunitas-komunitas ini menjaga warisan sejarah sebuah tradisi yang jaringannya membentang dari Mesopotamia hingga India dan Tiongkok.
Linimasa
- Abad ke-3: Orang Kristen yang dideportasi dari wilayah Romawi memperbesar komunitas di wilayah Sasaniyah.
- 339: Penganiayaan besar dimulai di bawah Syapur II dan berlangsung sekitar empat puluh tahun.
- 410: Sinode Seleukia-Ktesifon menata lembaga gereja dan menerima iman Nikea.
- 424: Para uskup di bawah Dadisho menolak pengajuan perkara kepada otoritas keagamaan di luar gereja mereka yang berada di Kekaisaran Romawi.
- 431: Konsili Efesus mengutuk Nestorius.
- 635: Menurut monumen Xi’an, Alopen tiba di Chang’an.
- 638: Taizong memerintahkan pembangunan biara bagi komunitas Alopen.
- 780–823: Timotius I mendukung misi ke arah timur.
- 781: Monumen Xi’an didirikan dengan tulisan Tionghoa dan Suryani.
- Abad ke-13–14: Penyebaran di bawah kekuasaan Mongol diikuti kemunduran di Asia Tengah.
- 1905: Perpustakaan manuskrip di dekat Bulayïq ditemukan.
- 11 November 1994: Yohanes Paulus II dan Mar Dinkha IV menandatangani deklarasi Kristologi bersama.
Pertanyaan Umum
Apakah Gereja Timur sama dengan Gereja Ortodoks Suryani?
Tidak. Gereja Timur termasuk dalam tradisi Suryani Timur. Gereja Ortodoks Suryani termasuk dalam tradisi Suryani Barat dan mengikuti tradisi teologi Miafisit.
Apakah Nestorius mendirikan Gereja Timur?
Gereja ini berkembang di Mesopotamia sebelum Nestorius dikutuk pada 431. Abdisho bar Brika kemudian menolak sebutan “Nestorian” dan menyatakan bahwa Nestorius tidak pernah menjadi patriark mereka.
Kapan Gereja Timur tiba di Tiongkok?
Menurut monumen Xi’an tahun 781, Alopen tiba di Chang’an pada 635. Taizong memerintahkan pembangunan biara bagi komunitasnya pada 638.
Bagaimana hubungan gereja ini dengan India?
Perdagangan maritim menghubungkan pelabuhan Iran dengan India dan Sri Lanka. Uskup metropolit Rēw Ardašīr bertanggung jawab menahbiskan uskup bagi orang-orang Kristen di India.
Sumber
- Wilhelm Baum dan Dietmar W. Winkler — Gereja Timur api.pageplace.de
- Encyclopaedia Iranica — Kekristenan i iranicaonline.org
- Wikipedia bahasa Inggris — Gereja Timur en.wikipedia.org
- Encyclopaedia Iranica — Kekristenan iii iranicaonline.org
- Publikasi Akademi Ilmu Pengetahuan Austria — Misi Gereja Timur ke India Selatan austriaca.at
- Encyclopaedia Iranica — Kekristenan viii iranicaonline.org
- Brett Knowles — Alopen, Ensiklopedia Peradaban Kristen onlinelibrary.wiley.com
- Encyclopaedia Iranica — Bulayïq iranicaonline.org
- Encyclopaedia Iranica — Kekristenan ii iranicaonline.org
FAQ
Apa itu Gereja Timur?
Gereja Timur adalah tradisi Kristen Suryani Timur yang berkembang di Mesopotamia di bawah kekuasaan Partia, lalu Sasaniyah, di sebelah timur Kekaisaran Romawi.
Mengapa sebutan Nestorian diperdebatkan?
Para penentangnya menggunakan sebutan itu setelah gereja ini menolak mengutuk Nestorius. Baum dan Winkler menolak anggapan yang tersirat dalam sebutan tersebut bahwa gereja ini mengajarkan adanya dua pribadi terpisah dalam Kristus.
Kapan Gereja Timur tiba di Tiongkok?
Menurut monumen Xi’an yang didirikan pada 781, uskup Persia Alopen tiba di Chang’an, ibu kota Dinasti Tang, pada 635.
Gereja mana saja yang meneruskan warisannya?
Warisan Suryani Timur berlanjut dalam Gereja Asiria Timur, Gereja Timur Kuno, Gereja Katolik Kaldea, dan Gereja Siro-Malabar.
Image: Church of St George – Kyustendil.jpg — Plamen Agov (user:MrPanyGoff), CC BY-SA 3.0






