Tolui (Tuluy) adalah putra bungsu Jenghis Khan (Cengiz Han) dan Börte. Ia merupakan panglima militer sekaligus wali penguasa Kekaisaran Mongol pada 1227 hingga 1229. Keluarganya meraih dominasi berkat pengelolaan sumber daya warisan oleh jandanya, Sorghaghtani (Sorgaktani), serta persekutuannya dengan Batu. Dukungan itu membantu putra mereka, Möngke (Mengü), menjadi khan agung pada 1251. Saudara-saudara Möngke, Kubilai (Kubilay) dan Hulagu (Hülagû), kemudian memperluas kekuasaan keluarga ke Tiongkok dan Iran.
Jika Anda mengikuti perjalanan Tolui dari pemimpin pengepungan hingga penguasa sementara, satu perbedaan akan terlihat jelas. Mewarisi harta ayah tidak otomatis berarti mewarisi kekuasaan tertinggi. Kebangkitan keluarganya menghubungkan kampanye militer Tolui, kendali Sorghaghtani atas sumber daya, dan naiknya Möngke ke takhta. Kisah ini juga memunculkan pertanyaan sulit: bagaimana satu keluarga bisa mendominasi kekaisaran ketika para anggotanya saling berperang?
Siapa Tolui dalam keluarga Jenghis Khan?
Kakak-kakak Tolui adalah Jochi (Cuci), Chagatai (Çağatay), dan Ögedei (Ögeday). Pada 1203, ia menikahi Sorghaghtani dari keluarga penguasa Kereit. Pernikahan ini menyatukan dua orang yang tanggung jawab militer dan pengelolaan rumah tangganya kelak menjadi landasan kedudukan keturunan mereka.
Adat yang menyerahkan harta ayah kepada putra bungsu memperkuat warisan Tolui. Namun, kepemilikan harta dan jabatan khan agung merupakan dua hal terpisah. Anda bisa membandingkannya dengan kehidupan sehari-hari: mewarisi rumah keluarga tidak otomatis menjadikan seseorang pemimpin seluruh usaha keluarga. Warisan Tolui memberinya sumber daya. Pemilihan Ögedei menentukan siapa yang memegang jabatan tertinggi.
Apa peran Tolui dalam kampanye militer Jenghis Khan?
Tolui memegang komando penting dalam kampanye melawan Jin. Ketika Jenghis Khan terluka saat mengepung Xijing, ia menyerahkan komando pasukan pengepung kepada Tolui. Pada musim gugur 1213, Tolui menyerang tembok Dexing bersama saudara iparnya, Chigu.
Pada 1220, Tolui bertugas dalam pasukan utama Jenghis Khan saat menyerang penguasa Khwarezm. Pada awal 1221, ayahnya mengirimnya untuk menumpas perlawanan di Khorasan (Horasan). Dengan demikian, tanggung jawabnya mencakup tugas dalam pasukan utama ayahnya sekaligus komando operasi tersendiri di suatu wilayah.
Kampanye Khorasan melibatkan pembunuhan massal. Tolui merebut Merv pada Februari 1221 dan memerintahkan pembunuhan terhadap sebagian besar penduduknya. Nishapur (Nişabur) juga jatuh pada 1221. Uraian Encyclopaedia Iranica yang merujuk pada Juvayni menyebut perlawanan selama tiga hari sebelum kota itu direbut dan penduduknya dibantai.
Tolui tetap memimpin pasukan setelah Ögedei menjadi khan agung. Pada 1231, ia memimpin pasukan dalam kampanye melawan Jin. Ia juga ikut dalam operasi ketika dirinya dan Ögedei mendekati Kaifeng dari arah berbeda. Masa pemerintahannya sebagai wali penguasa telah berakhir, tetapi peran militernya berlanjut.
Sumber mana yang mencatat kehancuran dan korban dalam kampanye Khorasan?
Juvayni dan Seyfi menyampaikan kisah tentang jumlah korban yang sangat besar. Dalam pembahasan mengenai bangsa Mongol di Encyclopaedia Iranica, Peter Jackson menelaah angka Juvayni yang menyebut lebih dari 1,300,000 kematian di Merv. Jackson mengingatkan agar angka tersebut tidak diperlakukan sebagai hasil penghitungan penduduk yang benar-benar dilakukan.
Seyfi menyebut 1,747,000 kematian di Nishapur. Jackson memandang angka semacam ini sebagai ungkapan persepsi orang-orang pada masa itu tentang kehancuran luar biasa, bukan statistik yang terverifikasi. Jika Anda menemukan angka-angka ini, bedakan jumlah yang dilaporkan dari bukti bahwa pembunuhan massal memang terjadi. Terjadinya pembantaian dan ketepatan jumlah korbannya adalah dua persoalan berbeda.
Untuk Herat, ada pembedaan lain yang perlu dibuat. Penyerahan kota itu kepada Tolui pada 1221 dan pembantaian oleh Eljigidei pada Juni 1222 merupakan peristiwa terpisah. Kematian akibat serangan yang lebih belakangan itu tidak boleh langsung dibebankan kepada Tolui. Mengaitkan setiap panglima dengan tanggal yang tepat mencegah berbagai peristiwa kekerasan melebur menjadi satu kisah.
Arkeologi menambah lapisan bukti di Nishapur. Penggalian di Shadyakh dan Kuhendiz menunjukkan bahwa kehidupan berlanjut di beberapa bagian permukiman meski terjadi kehancuran pada 1221. Bukti ini memastikan bahwa kawasan tertentu tetap dihuni, berdampingan dengan catatan tertulis tentang kehancuran.
Mengapa Tolui memerintah sementara setelah ayahnya meninggal?
Jenghis Khan meninggal pada 1227. Tolui menjadi wali penguasa hingga Ögedei terpilih dalam kurultai pada 1229. Ia juga mengurus pemakaman ayahnya. Pemerintahannya berlangsung pada masa antara kematian penguasa dan pemilihan khan agung berikutnya.
Warisan bagi putra bungsu membantu menjelaskan kuatnya kedudukan Tolui selama masa tersebut. Namun, warisan itu tidak memberinya hak otomatis atas takhta. Hasil akhirnya memperjelas perbedaan tersebut: Tolui memegang pemerintahan sementara, sedangkan Ögedei memperoleh gelar melalui pemilihan pada 1229.
Tolui meninggal pada 1232. Berbagai catatan memberikan penyebab yang berbeda. Sejarah Rahasia Bangsa Mongol mengaitkan kematiannya dengan ritual perdukunan yang menyelamatkan Ögedei. Sebaliknya, Juvayni mengaitkannya dengan kebiasaan minum minuman beralkohol. Tidak satu pun dari kedua penjelasan itu boleh disajikan sebagai kepastian.
Bagaimana Sorghaghtani mengubah warisan menjadi kekuatan politik?
Setelah Tolui meninggal, Sorghaghtani mengambil alih ulus dan ordo miliknya di Mongolia dan Tiongkok utara. Ia mengelola pendapatan keluarga dan penduduk yang berada di bawah kekuasaannya. Perannya menjaga kendali atas sumber daya yang melekat pada warisan Tolui setelah pemilik awalnya meninggal.
Sorghaghtani juga menolak usulan untuk menikah dengan Güyük, putra Ögedei. Ia menyebut pengasuhan anak-anaknya sebagai alasan. Pengaruh politiknya kemudian bertumpu pada pengelolaan rumah tangga sekaligus pembentukan persekutuan. Ia bersekutu dengan Batu, keturunan Jochi, yang mendukung pencalonan Möngke sebagai khan agung.
Naiknya Möngke ke takhta pada 1251 memindahkan jabatan tertinggi ke cabang keluarga Tolui. Para pangeran penentang dari garis Ögedei dan Chagatai kemudian diperlemah melalui eksekusi, pengasingan, dan pembagian ulang sumber daya mereka. Dengan demikian, dominasi keluarga ini bergantung pada sumber daya warisan, dukungan cabang keluarga lain, serta penindasan terhadap para pesaing setelah kemenangan.
Bagaimana naiknya Möngke, Kubilai, dan Hulagu mengubah kedudukan keluarga Tolui?
Möngke memerintah pada 1251 hingga 1259. Karakorum menjadi ibu kota Kekaisaran Mongol pada rentang yang lebih luas, yakni 1235 hingga 1260, termasuk selama pemerintahannya. Di bawah Möngke, keturunan Tolui memegang jabatan khan agung. Mereka juga mengarahkan kampanye militer yang memperluas kekuasaan mereka di wilayah lain.
Möngke mengirim saudaranya, Hulagu, ke Iran. Benteng-benteng Nizari jatuh pada 1256. Perebutan Bagdad (Bağdat) oleh Hulagu pada 1258 mengakhiri Kekhalifahan Abbasiyah. Kampanye-kampanye ini memberi keluarga Tolui kedudukan di dunia Islam bagian timur sekaligus di pusat kekaisaran.
Ringkasan bab karya Stefan Kamola menjelaskan persaingan antara keturunan Jochi dan Tolui untuk menguasai sumber daya wilayah tersebut. Hulagu akhirnya berhasil memegang komando atas wilayah itu. Ringkasan yang sama menjelaskan bahwa para administrator berbahasa Persia membantu menanamkan kedudukan lingkaran Hulagu dalam politik setempat melalui proyek pembangunan di Iran utara.
Kematian Möngke pada 1259 menyingkap perpecahan dalam keluarga yang telah meraih kekuasaan ini. Saudara-saudaranya, Kubilai dan Ariq Böke (Arık Böke), terlibat perang saudara setelah ia meninggal. Penyerahan Ariq Böke pada 1264 mengakhiri konflik itu. Dominasi atas cabang keluarga lain tidak menghasilkan kesepakatan di antara putra-putra Tolui sendiri.
Selama perebutan suksesi, Hulagu memperoleh kedudukan sebagai khan regional. Kubilai mengakuinya setara dengan para kepala cabang dinasti lainnya. Dengan demikian, keturunan Tolui memegang kekuasaan di berbagai wilayah. Pada saat yang sama, hubungan mereka semakin sulit diselaraskan dengan satu komando yang bersatu.
Kubilai menggunakan nama dinasti Yuan pada 1271. Ia juga mengirim yarlik yang mengukuhkan gelar para penguasa baru Ilkhanat. Cabang Tiongkok dan Iran mempertahankan persekutuan. Para utusan melakukan perjalanan antara kedua wilayah hampir setiap tahun. Perpecahan keluarga dan kerja sama yang berkelanjutan berjalan beriringan.
Kronologi
- 1203: Tolui menikahi Sorghaghtani.
- 1213: Ia menyerang tembok Dexing dalam kampanye melawan Jin.
- 1220: Ia bertugas dalam pasukan ayahnya melawan penguasa Khwarezm.
- 1221: Kampanye Khorasannya mendatangkan pembantaian di Merv dan Nishapur.
- 1227–1229: Ia menjadi wali penguasa setelah Jenghis Khan meninggal.
- 1229: Ögedei terpilih sebagai khan agung.
- 1232: Tolui meninggal; catatan mengenai penyebabnya berbeda-beda.
- 1251: Naiknya Möngke ke takhta membawa jabatan khan agung ke cabang keluarga Tolui.
- 1256: Kampanye Hulagu merebut benteng-benteng Nizari.
- 1258: Hulagu merebut Bagdad dan mengakhiri Kekhalifahan Abbasiyah.
- 1259: Möngke meninggal.
- 1264: Ariq Böke menyerah, mengakhiri perang saudaranya dengan Kubilai.
- 1271: Kubilai menggunakan nama dinasti Yuan.
Detail yang tidak Anda temukan dalam buku panduan
Nama Tolui dalam bahasa Mongolia berarti “cermin”. Detail bahasa ini melengkapi perjalanan hidup yang biasanya dikisahkan melalui pengepungan, warisan, dan pemerintahan sementara.
Pada 1271, Abaqa (Abaka), putra Hulagu, mengirim dua ahli ketapel perang bernama Ala al-Din dan Ismail kepada Kubilai. Pengiriman mereka memberi Anda contoh konkret kerja sama antara cabang Iran dan Tiongkok. Hubungan itu melibatkan orang-orang dengan keahlian khusus, selain gelar dan utusan.
Tanya jawab
Apakah Tolui penerus Jenghis Khan?
Ia memerintah sebagai wali penguasa pada 1227 hingga 1229. Ögedei menjadi khan agung melalui pemilihan pada 1229. Warisan Tolui tidak otomatis memberinya jabatan tersebut.
Bagaimana Tolui meninggal?
Ia meninggal pada 1232. Sejarah Rahasia Bangsa Mongol mengaitkan kematiannya dengan ritual perdukunan, sedangkan Juvayni mengaitkannya dengan kebiasaan minum minuman beralkohol. Penyebabnya tetap tidak pasti.
Mengapa Sorghaghtani penting?
Ia mengelola pendapatan dan penduduk yang diwarisi setelah Tolui meninggal. Persekutuannya dengan Batu memastikan dukungan bagi pencalonan Möngke.
Apakah putra-putranya mempertahankan persatuan kekaisaran?
Kubilai dan Ariq Böke berperang setelah Möngke meninggal. Perang mereka berakhir pada 1264, sementara Hulagu memantapkan kedudukannya sebagai khan regional.
Sumber
- Vikipedi — Tuluy tr.wikipedia.org
- Wikipedia — Tolui en.wikipedia.org
- Encyclopaedia Iranica — NISHAPUR i iranicaonline.org
- Peter Jackson, Encyclopaedia Iranica — BANGSA MONGOL iranicaonline.org
- Encyclopaedia Iranica — NISHAPUR vi. Arkeologi iranicaonline.org
- Bruno De Nicola — Wali Penguasa dan Permaisuri degruyterbrill.com
- Stefan Kamola — Bangsa Mongol di Dunia Muslim, 1218–1280 academic.oup.com
- Encyclopaedia Iranica — HUBUNGAN TIONGKOK-IRAN iii iranicaonline.org
- Wikipedia — Karakorum en.wikipedia.org
FAQ
Apakah Tolui penerus Jenghis Khan?
Tolui menjadi wali penguasa sejak Jenghis Khan meninggal pada 1227 hingga Ögedei terpilih pada 1229. Mewarisi harta ayahnya tidak otomatis memberinya gelar khan agung.
Bagaimana Tolui meninggal?
Tolui meninggal pada 1232. Sejarah Rahasia Bangsa Mongol mengaitkan kematiannya dengan ritual perdukunan untuk menyelamatkan Ögedei, sedangkan Juvayni mengaitkannya dengan kebiasaan minum minuman beralkohol. Penyebabnya tetap tidak pasti.
Mengapa Sorghaghtani penting dalam kebangkitan keluarganya?
Setelah Tolui meninggal, Sorghaghtani mengelola pendapatan warisan keluarga dan penduduk yang berada di bawah kekuasaannya. Persekutuannya dengan Batu memastikan dukungan Batu bagi pencalonan Möngke.
Apakah putra-putra Tolui mempertahankan persatuan kekaisaran?
Dominasi mereka tidak mencegah perang internal. Setelah Möngke meninggal pada 1259, Kubilai dan Ariq Böke memperebutkan suksesi hingga Ariq Böke menyerah pada 1264.
Image: TuluiWithQueenSorgaqtani.jpg — Rashid al-Din, Public domain






