Seljuk dan Beylik · 1037 – 1500

Masjid Alâeddin di Konya: Masjid Agung Ibu Kota Seljuk

Masjid Alâeddin di Konya terbentuk melalui sejumlah tahap pembangunan sejak masa pemerintahan Mesud I hingga Alâeddin Keykubad I. Kolom pakai ulang, mimbar kayu bertarikh, hiasan ubin, dan makam di halamannya menghubungkan keterampilan arsitektur dengan sejarah dinasti Seljuk.

8 menit baca5 sumberDiterbitkan: 2 November 2026Terakhir diperiksa: 4 November 2026
Tim redaksi Köküne Kadar TVKebijakan Sumber Kami
Masjid Alâeddin di Konya: Masjid Agung Ibu Kota Seljuk
Alaedin Camii.JPG

Masjid Alâeddin di Konya: mulai dari mana?

Masjid Alâeddin (Alâeddin Camii) berdiri di Bukit Alâeddin, di pusat kota Konya. Inilah masjid agung Seljuk Anatolia. Sejarahnya membentang dari awal pembangunan pada masa Mesud I hingga penyelesaiannya pada masa Alâeddin Keykubad I. Masjid dan bukitnya sama-sama menyandang nama Keykubad. Nama itu menandai tahap akhir dari riwayat pembangunan yang jauh lebih panjang.

Jika Anda mengenal masjid ini melalui detail yang masih bertahan, beberapa zaman akan terlihat sekaligus. Lebih dari empat puluh kolom marmernya digunakan kembali dari bangunan Romawi dan Romawi Timur (Bizantium). Mimbar kayunya bertarikh 1155. Di halamannya terdapat dua makam Seljuk. Semua unsur ini memungkinkan Anda menelusuri perjalanan bangunan melalui bahan, prasasti, dan pekerjaan yang diperintahkan para sultan.

Siapa yang membangun Masjid Alâeddin?

Pembangunan dimulai pada masa pemerintahan sultan Seljuk Anatolia, Rükneddin Mesud I, antara 1116 dan 1156. Tahap awal pembangunan berlanjut hingga masa ketika Kılıçarslan II memerintahkan pendirian makam di halaman. Karena itu, pembangunan masjid ini tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu penguasa. Pekerjaan paling awal sudah berlangsung sebelum masa sultan yang namanya diabadikan pada masjid.

Prasasti pada fasad utara mencatat tahap pembangunan lain pada 616, yang bertepatan dengan 1219. Prasasti itu menyebut İzzeddin Keykâvus I dan menempatkan pekerjaan tersebut di bawah pengawasan Atabeg Ayas. Sebuah prasasti juga menyebut Atabeg Ayaz sebagai wali pengelola. Catatan ini memperlihatkan peran para pejabat dalam sejarah yang mudah diceritakan hanya melalui nama-nama sultan.

Prasasti pada pintu masuk monumental menyebut ahli bangunannya sebagai Muhammed bin Havlan al-Dimashqi, dari Damaskus. Nama ini memberi Anda sosok perajin tertentu yang dapat dihubungkan dengan bangunan tersebut. Prasasti-prasastinya merekam beberapa jenis tanggung jawab: dukungan sultan, pengawasan, dan pekerjaan pembangunan. Semuanya menjadi bagian dari sejarah pembangunan masjid.

Apakah Masjid Alâeddin selesai pada 1220 atau 1221?

Tahun penyelesaian berbeda dalam sumber-sumber yang diterbitkan. Semavi Eyice menyalin tarikh prasasti penyelesaian pada pintu masuk utama sebagai 617, atau 1220. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menyebut 1221. Keduanya menempatkan penyelesaian pada masa Alâeddin Keykubad I. Perbedaannya terletak pada tahun yang disebutkan dalam tahap akhir tersebut.

Untuk gambaran sejarah, rentang 1220–1221 menyampaikan perbedaan ini dengan jelas. Rentang itu juga membedakan penyelesaian dari awal pembangunan pada masa Mesud I. Prasasti 1219 berasal dari tahap di antaranya, pada masa Keykâvus I. Jika dibaca bersama, tanggal-tanggal ini menunjukkan pekerjaan yang berlangsung bertahap. Masjid ini bukan hasil satu pekerjaan tanpa jeda atas prakarsa seorang penyandang dana saja.

Apa yang bisa Anda lihat di dalam Masjid Alâeddin?

Lebih dari empat puluh kolom marmer pakai ulang berdiri di dalam bangunan. Kolom-kolom itu berasal dari masa Romawi dan Bizantium. Penggunaan kembali unsur batu tersebut menghubungkan masjid Seljuk ini secara fisik dengan bangunan-bangunan terdahulu. Riwayat awal kolom menjadi bagian dari interior yang Anda lihat, berdampingan dengan karya yang dibuat khusus untuk masjid.

Di sayap timur, enam lorong membentang sejajar dengan dinding kiblat. Lengkung-lengkung runcing yang ditopang kolom pakai ulang memisahkan lorong-lorong tersebut. Susunan ini memberi Anda cara yang jelas untuk memahami interiornya: ikuti lorong-lorong sejajar itu, lalu amati kolom penyangga lengkung. Tata ruang dan bahan pakai ulangnya membentuk satu komposisi arsitektur.

Penutup atap tradisional masjid menggunakan kayu dan tanah. Letak pintu masuknya juga tercatat secara terperinci. Ada empat pintu: satu pada fasad timur dan tiga pada fasad utara. Detail struktur ini memperluas perhatian melampaui hiasan ukir. Kayu, tanah, dan marmer pakai ulang semuanya menjadi bagian dari sejarah bahan bangunan masjid.

Mengapa mimbar kayu tahun 1155 penting?

Prasasti perajinnya mencantumkan tarikh 1155 dan menyebut Mengü Berti dari Ahlat sebagai pembuat mimbar. Dengan demikian, mimbar ini merupakan karya bertarikh dari masa awal sejarah masjid. Prasasti-prasastinya juga menyebut Sultan Mesud dan Kılıçarslan II. Satu perlengkapan masjid ini menyimpan nama seorang perajin sekaligus para sultan yang menjadi pelindungnya.

Hiasannya menggunakan teknik kündekâri. Teknik ini menyatukan potongan kayu yang dibentuk menjadi pola geometris. Jika Anda mengamati polanya dari dekat, bahan dan cara pembuatannya menjadi bagian dari hal yang dapat dipelajari. Bentuk geometris itu muncul dari komponen kayu yang dirangkai. Mimbar ini memperlihatkan keterampilan yang berbeda dari pengerjaan kolom marmer dan hiasan ubin di bagian lain masjid.

Tarikh 1155 juga membantu membedakan riwayat mimbar dari penyelesaian masjid yang berlangsung kemudian. Perlengkapan ini berasal dari masa Mesud I, yang pemerintahannya berakhir pada 1156. Tahap pembangunan yang tercatat pada masa Keykâvus I dan Keykubad I berlangsung setelahnya. Dengan membedakan tanggal-tanggal tersebut, proses terbentuknya masjid secara bertahap menjadi lebih mudah dipahami.

Mihrab berubin dan kubah di depannya

Hiasan ubin mihrab menggunakan warna ungu terung, biru pirus, dan hitam. Warna-warna ini memberi Anda detail khusus untuk dicari dalam tata hiasnya. Di depan mihrab berubin terdapat kubah maksure yang juga dihiasi ubin. Mihrab dan kubah menghadirkan karya ubin dalam bangunan yang bahan menonjol lainnya mencakup marmer dan kayu.

Mihrab ini juga memiliki riwayat di bawah lantai. Pada 1968, pecahan ubinnya ditemukan dalam material urukan di bawah lapisan lantai. Hiasan yang masih bertahan dan pecahan yang ditemukan merupakan dua bagian berbeda dari riwayat unsur yang sama. Penemuan itu memberi catatan bertanggal tentang bahan mihrab yang ditemukan di dalam bangunan itu sendiri.

Apa saja makam di halaman masjid?

Dua makam Seljuk berdiri di halaman. Makam timur yang telah rampung dibangun atas perintah Kılıçarslan II. Badannya bersisi sepuluh, dengan atap runcing bersisi sepuluh. Di dalamnya terdapat delapan senotaf atau makam simbolis. Letaknya di halaman masjid menghubungkan langsung arsitektur peringatan dinasti dengan sejarah masjid agung ini.

Makam barat bersisi delapan dan tidak memuat senotaf. Jadi, kedua bangunan di halaman berbeda dalam bentuk maupun isinya. Mengingat perbedaan ini membantu Anda mengenalinya: makam timur yang telah rampung bersisi sepuluh dan memiliki delapan senotaf; bangunan barat bersisi delapan tanpa senotaf. Keduanya perlu diperhatikan secara terpisah saat memahami halaman masjid.

Linimasa

  • 1116–1156: Pembangunan dimulai pada masa pemerintahan Mesud I.
  • 1155: Mengü Berti dari Ahlat menyelesaikan mimbar kayu.
  • Masa pemerintahan Kılıçarslan II: Pendirian makam dinasti bersisi sepuluh di halaman diperintahkan.
  • 1219: Sebuah prasasti mencatat pembangunan pada masa İzzeddin Keykâvus I.
  • 1220–1221: Sumber-sumber menyebut tahun penyelesaian yang berbeda pada masa Alâeddin Keykubad I.
  • 1649: Sebuah catatan membahas pembersihan salju dari atap masjid oleh lima orang non-Muslim.
  • 1849: Gambar gravir masjid muncul dalam karya Charles Texier yang diterbitkan di Paris.
  • 1968: Pecahan ubin mihrab ditemukan dalam urukan di bawah lantai.
  • 25 Februari 2000: Berkas Konya sebagai ibu kota Seljuk, yang menyebut masjid ini, diajukan ke Daftar Tentatif UNESCO.

Detail yang tidak akan Anda temukan dalam buku panduan

Catatan dari 1649 menghubungkan masjid dengan pekerjaan rutin musim dingin: membersihkan salju dari atap. Catatan itu menyetujui kelanjutan layanan tersebut oleh lima orang non-Muslim dengan imbalan pembebasan pajak. Jika Anda pernah membersihkan timbunan salju, pekerjaan ini memberi kaitan yang akrab dengan pemeliharaan bangunan. Di sini, pekerjaan tersebut muncul dalam sebuah pengaturan yang terdokumentasi.

Sebuah kolom di samping makam memuat prasasti berbahasa Yunani. Isinya menyatakan bahwa kolom itu pernah dipersembahkan untuk sebuah gereja di Isaura. Ini merupakan contoh penggunaan kembali yang sangat konkret. Selain pengenalan umum kolom-kolom sebagai peninggalan Romawi dan Bizantium, prasasti ini menyimpan informasi tentang persembahan terdahulu yang melekat pada satu unsur batu.

Menurut İbrahim Hakkı Konyalı, ruang bawah tanah makam kedua lama digunakan sebagai bak penampungan air. Penggunaan yang dilaporkan itu menambahkan fungsi lain pada bangunan barat, yang bersisi delapan dan tidak memuat senotaf. Riwayatnya mencakup penyimpanan air sekaligus identitas arsitekturnya sebagai makam.

Foto Masjid Alâeddin dan gambar bersejarah

Arsip Lembaga Sejarah Turki menyimpan catatan masjid yang memuat tiga puluh lima gambar. Di dalamnya terdapat denah bertanggal 9 Februari 1932. Bagi pembaca yang mencari foto Masjid Alâeddin, catatan itu juga menyediakan cara untuk mengamati bangunan melalui denah bertanggal.

Gambar yang lebih awal terdapat dalam koleksi visual Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Gambar itu berupa gravir dari karya Charles Texier yang diterbitkan di Paris pada 1849. Gravir tersebut dan denah arsip tahun 1932 menyediakan bentuk bukti visual yang berbeda. Yang satu merekam masjid melalui gambar gravir; yang lain menyajikan susunan ruangnya dalam denah.

Masjid Alâeddin dan ibu kota Seljuk

Masjid Alâeddin termasuk bangunan yang disebut dalam berkas Konya yang diajukan ke Daftar Tentatif UNESCO pada 25 Februari 2000. Pengajuan itu mengidentifikasi Konya sebagai ibu kota peradaban Seljuk. Tahap-tahap pembangunan atas prakarsa para sultan dan makam di halaman memberi wujud arsitektur yang konkret pada hubungan masjid dengan ibu kota Seljuk.

FAQ

Di mana letak Masjid Alâeddin di Konya?

Masjid ini berdiri di Bukit Alâeddin, di pusat kota. Nama masjid dan bukit berasal dari nama sultan Seljuk Anatolia, Alâeddin Keykubad I.

Kapan masjid ini dibangun?

Pembangunan dimulai pada masa pemerintahan Mesud I, antara 1116 dan 1156. Tahap-tahap berikutnya berlanjut di bawah penguasa lain. Penyelesaiannya pada masa Keykubad I diberi tarikh 1220 oleh Semavi Eyice dan 1221 oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Apa yang perlu Anda perhatikan di dalamnya?

Perhatikan lebih dari empat puluh kolom marmer pakai ulang, mimbar kayu buatan Mengü Berti pada 1155, serta ubin mihrab berwarna ungu terung, biru pirus, dan hitam. Sayap timur memiliki enam lorong yang sejajar dengan dinding kiblat.

Apa perbedaan kedua makam di halaman?

Makam timur Kılıçarslan II yang telah rampung memiliki badan bersisi sepuluh dan delapan senotaf. Makam barat bersisi delapan dan tidak memuat senotaf.

Sumber

  1. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata — Masjid Alâeddin kulturportali.gov.tr
  2. Ensiklopedia Islam TDV — Semavi Eyice, Masjid Alâeddin islamansiklopedisi.org.tr
  3. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata — Turki dari Gravir hingga Foto kulturportali.gov.tr
  4. Arsip Lembaga Sejarah Turki — Masjid Alâeddin arsiv.ttk.gov.tr
  5. Pusat Warisan Dunia UNESCO — Konya—Ibu Kota Peradaban Seljuk whc.unesco.org

FAQ

Di mana letak Masjid Alâeddin di Konya?

Masjid ini berdiri di Bukit Alâeddin, di pusat kota Konya. Nama masjid dan bukit tersebut berasal dari nama sultan Seljuk Anatolia, Alâeddin Keykubad I.

Kapan Masjid Alâeddin dibangun?

Pembangunan dimulai pada masa pemerintahan Mesud I, antara 1116 dan 1156. Tahap pembangunan berikutnya berlanjut di bawah penguasa Seljuk lainnya. Semavi Eyice mencatat tarikh prasasti penyelesaiannya sebagai 617 (1220), sedangkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menyebut 1221.

Apa yang perlu Anda perhatikan di dalam Masjid Alâeddin?

Perhatikan lebih dari empat puluh kolom marmer Romawi dan Bizantium yang digunakan kembali, mimbar kayu karya Mengü Berti bertarikh 1155, serta ubin mihrab berwarna ungu terung, biru pirus, dan hitam.

Apa dua bangunan makam di halaman masjid?

Makam timur yang telah rampung dibangun atas perintah Kılıçarslan II. Badannya bersisi sepuluh dan memuat delapan senotaf atau makam simbolis. Makam barat bersisi delapan dan tidak memuat senotaf.

Image: Alaedin Camii.JPG — Christian Mathis, CC BY-SA 3.0

Bagikan

Menemukan kesalahan di artikel ini? Beri tahu kami →

Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan. Setiap informasi dicocokkan dengan sumber dan tidak ada kalimat tanpa sumber yang diterbitkan. Jika Anda menemukan kesalahan, kirimi kami pesan. Kebijakan Sumber Kami · Hubungi kami →

Artikel terkait