Kesultanan Utsmaniyah · 1299 – 1922

Ali Qushji: astronom dari Samarkand ke Istanbul

Ali Qushji menimba ilmu di Samarkand dan tiba di Istanbul melalui istana Uzun Hasan di Tabriz, lalu menjadi pengajar di bawah pemerintahan Mehmed II. Karya astronomi, buku pelajaran matematika, dan argumennya tentang kemungkinan rotasi Bumi memperlihatkan luasnya keilmuan yang ia tekuni.

8 menit baca5 sumberDiterbitkan: 2 November 2026Terakhir diperiksa: 2 November 2026
Tim redaksi Köküne Kadar TVKebijakan Sumber Kami
Ali Qushji: astronom dari Samarkand ke Istanbul
Mirzo Ulughbek and Ali Kushchi in the observatory.jpg

Siapa Ali Qushji?

Ali Qushji adalah astronom, matematikawan, dan ahli bahasa abad ke-15. Perjalanan kariernya menghubungkan Samarkand (Semerkant) dengan Istanbul. Ia belajar dalam lingkungan keilmuan Ulugh Beg, ikut menyusun tabel astronomi, dan akhirnya mengajar di bawah pemerintahan Mehmed II. Perjalanannya juga melewati Kerman (Kirman) dan istana Uzun Hasan di Tabriz (Tebriz).

Jika Anda mengikuti perjalanan Ali Qushji dari Samarkand ke Istanbul, Anda akan menemukan lebih dari sekadar astronom yang berpindah tempat. Kariernya memadukan pengamatan, pengajaran matematika, diplomasi, dan perdebatan tentang cara astronomi membuktikan pernyataannya. Buku-bukunya membahas benda langit sekaligus perhitungan praktis. Salah satunya menjadi buku pelajaran matematika di madrasah Utsmaniyah.

Ia lahir pada awal abad ke-15, kemungkinan di Samarkand. Tahun 1403 yang sering disebut sebagai tahun kelahirannya belum pasti. TDV İslâm Ansiklopedisi menyatakan bahwa tanggal kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Perbedaan ini perlu Anda perhatikan saat membaca tulisan yang mencantumkan tahun kelahiran tertentu tanpa keterangan tentang ketidakpastiannya.

Ali al Qushji: siapa nama aslinya?

Cendekiawan yang dikenal dengan nama Ali al Qushji ini juga disebut Ali Kuşçu. Nama pribadinya adalah Alâeddin Ali, sedangkan ayahnya bernama Muhammed. Sebutan Kuşçu berasal dari pekerjaan ayahnya sebagai kepala pemelihara elang pemburu Ulugh Beg. Dengan demikian, pekerjaan di istana melekat pada nama seorang astronom.

Pendidikan Ali Qushji mempertemukannya dengan sejumlah cendekiawan di Samarkand. Ia mempelajari matematika dan astronomi bersama Ulugh Beg, Kadızâde-i Rûmî, dan Gıyâseddin Cemşîd el-Kâşî. Kedua bidang itu tetap menjadi inti tulisan-tulisannya kemudian, meskipun kariernya berpindah antara wilayah Timuriyah dan Utsmaniyah.

Dari Samarkand ke Kerman

Setelah belajar di Samarkand, Ali Qushji melanjutkan kegiatan keilmuannya di Kerman, yang kini berada di Iran. Sekembalinya ke Samarkand, ia mempersembahkan Hallü eşkâli’l-kamer kepada Ulugh Beg. Risalah itu membahas Bulan. Karya tersebut menjadi contoh nyata minat astronominya sebelum ia akhirnya pindah ke Istanbul.

Ali Qushji juga bekerja di observatorium Ulugh Beg. Di sana, ia berkontribusi pada tabel astronomi yang dikenal sebagai Zîc-i Sultânî. Kontribusinya merupakan bagian dari upaya keilmuan bersama. Selain risalahnya sendiri tentang Bulan, tabel-tabel itu menjadi bagian dari pekerjaannya di Samarkand.

Terbunuhnya Ulugh Beg pada 1449 menjadi titik balik besar dalam karier tersebut. Peristiwa itu turut mengakhiri masa kerja Ali Qushji di Samarkand. Perjalanan berikutnya membawanya melalui Tabriz. Di sana, penguasa Akkoyunlu, Uzun Hasan, memberinya dukungan dan mempekerjakannya sebagai utusan.

Bagaimana Ali Qushji sampai ke Istanbul?

Ali Qushji bertemu Mehmed II sebagai duta Uzun Hasan. Penguasa Utsmaniyah itu mengundangnya untuk menetap di Istanbul. Ali Qushji terlebih dahulu kembali ke Tabriz untuk menyelesaikan tugas diplomatik dan melapor kepada Uzun Hasan. Setelah kepulangan itu, barulah ia pindah secara permanen.

MacTutor memperkirakan bahwa ia menetap di Istanbul sekitar 1472. Ia datang bersama keluarga dan murid-muridnya. Mehmed II mengangkatnya sebagai pengajar di Madrasah Hagia Sophia (Ayasofya). Salah satu murid yang ia didik di Istanbul adalah Molla Lutfi. Kegiatan mengajar ini menghubungkan pendidikan yang ia peroleh di Samarkand dengan karier pengajarannya kemudian di wilayah Utsmaniyah.

Jika Anda berkunjung ke Istanbul, Hagia Sophia dan Eyüp Sultan menjadi dua titik geografis untuk menelusuri kisahnya. Madrasah Hagia Sophia merupakan tempat ia ditugaskan mengajar. Kompleks pemakaman Eyüp Sultan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya setelah ia meninggal pada 1474. Kedua tempat itu menunjukkan lokasi tahun-tahun terakhir kehidupannya di kota tersebut.

Buku Ali Qushji: apa saja karyanya?

Tulisan Ali Qushji mencakup risalah tentang Bulan Hallü eşkâli’l-kamer, karya astronomi er-Risâletü’l-Fethiyye, dan buku matematika er-Risâletü’l-Muhammediyye fi’l-hisâb. Pokok bahasannya menjelaskan mengapa ia dikenal dalam astronomi sekaligus matematika. Karya keilmuannya juga mencakup ulasan atas Tecrîdü’l-i‘tikād karya Tûsî.

Ia mendedikasikan Fethiyye kepada Mehmed II setelah kemenangan sang penguasa atas Uzun Hasan pada 1473. Persembahan itu menghubungkan buku astronominya dengan dua penguasa yang membentuk perjalanan diplomatiknya. Uzun Hasan mempekerjakannya sebagai utusan, sedangkan Mehmed kemudian mengangkatnya sebagai pengajar di Istanbul.

Muhammediyye juga dipersembahkan kepada Mehmed II. Buku itu kemudian digunakan sebagai buku pelajaran matematika tingkat menengah di madrasah Utsmaniyah. Bagian perhitungannya membahas aritmetika India dengan sistem nilai tempat desimal, aritmetika berbasis enam puluh yang digunakan para astronom, dan persamaan kuadrat. Berbagai metode matematika tersebut dihimpun dalam satu buku pengajaran.

Bagian keduanya membahas luas permukaan dan volume. Topiknya mencakup bola, bagian-bagian bola, dan kerucut. Jika Anda hanya mengenal Ali Qushji melalui astronomi, bab-bab ini memperlihatkan sisi lain karyanya: pengukuran permukaan dan bangun ruang.

Ada perbedaan pendapat tentang waktu penulisan buku tersebut. Kâtib Çelebi mengaitkannya dengan perjalanan diplomatik pertama Ali Qushji. Sebaliknya, TDV mendukung penanggalan Taşköprizâde, yaitu Februari 1473, berdasarkan bagian pendahuluan buku itu. Dengan demikian, Februari 1473 memiliki dukungan dari teks karya tersebut, melampaui pernyataan dalam biografi yang ditulis kemudian.

Bisakah Bumi berotasi?

Dalam ulasannya atas Tecrîdü’l-i‘tikād karya Tûsî, Ali Qushji berpendapat bahwa astronomi tidak harus bergantung pada filsafat alam Aristoteles. Pendapat ini menyangkut dasar penalaran astronomi. Pandangan itu juga membentuk pembahasannya tentang apakah Bumi harus tetap diam.

Ali Qushji menyatakan bahwa bukti pengamatan yang sahih belum membuktikan secara meyakinkan bahwa Bumi diam. Ia juga berpendapat bahwa anggapan Bumi berotasi tidak serta-merta menimbulkan pertentangan. Pandangannya membuka kemungkinan rotasi Bumi. Namun, pandangan itu bukan pembuktian berdasarkan pengamatan bahwa Bumi berotasi.

Abdülalî el-Bircendî menentang pandangan tersebut pada awal abad ke-16. Ia berpendapat bahwa filsafat alam dapat membuktikan bahwa Bumi diam. Perbedaan pendapat mereka menyangkut gerak Bumi sekaligus kewenangan argumen filosofis dalam astronomi.

Detail yang tidak Anda temukan dalam buku panduan wisata

Salah satu kisah yang dimuat MacTutor menggambarkan diskusi ilmiah ketika Ali Qushji tiba di Istanbul. Saat menyeberangi Selat Bosporus, para peserta membahas penyebab pergerakan air. Dalam kisah sejarah itu, penyeberangan menjadi kesempatan untuk berdebat secara ilmiah sekaligus melakukan perjalanan.

Muhammediyye memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari melalui definisinya tentang bilangan. Ali Qushji merumuskan definisi itu agar mencakup satu. Saat Anda menghitung satu benda sebelum menghitung beberapa benda, kegiatan yang akrab itu dapat membantu Anda memahami persoalannya: definisinya secara tegas memasukkan satu ke dalam kategori bilangan.

Buku yang sama menggunakan istilah müsbet dan menfi. Asal-usul keduanya masih menjadi persoalan penafsiran. Kemungkinan bahwa Ali Qushji menciptakannya sendiri dan kemungkinan bahwa istilah itu diteruskan dari matematika Tiongkok diperlakukan sebagai dua penjelasan yang berbeda. Penggunaan istilahnya terdokumentasi. Menetapkan salah satu penjelasan sebagai kepastian akan melampaui bukti tersebut.

Fethiyye juga terus dibaca kemudian melalui bahasa Turki. Karya itu diterjemahkan pada 1548 dengan judul Hulâsatü’l-hey’e dan pada 1824 sebagai Mir’âtü’l-âlem. Terjemahan-terjemahan tersebut membawa karya astronomi yang didedikasikan pada 1473 kepada pembaca pada masa-masa berikutnya.

Linimasa

  • Awal abad ke-15: Kemungkinan lahir di Samarkand; tahun 1403 yang sering disebut belum pasti.
  • Pendidikan dan pekerjaan sebelum ke Istanbul: Belajar di Samarkand, melanjutkan kegiatan keilmuannya di Kerman, dan bekerja di observatorium Ulugh Beg di Samarkand.
  • 1449: Ulugh Beg terbunuh, sehingga kehidupan kerja Ali Qushji di Samarkand mengalami gangguan besar yang menentukan kelanjutannya.
  • Misi diplomatik: Bertemu Mehmed II sebagai utusan Uzun Hasan.
  • Sekitar 1472: Menetap secara permanen di Istanbul bersama keluarga dan murid-muridnya.
  • Februari 1473: Menulis Muhammediyye menurut penanggalan yang didukung TDV berdasarkan bagian pendahuluannya.
  • 1473: Mendedikasikan Fethiyye kepada Mehmed II setelah kemenangannya atas Uzun Hasan.
  • Desember 1474: Meninggal di Istanbul dan dimakamkan di Eyüp Sultan; sumber-sumber berbeda mengenai tanggalnya.
  • 1548: Terjemahan bahasa Turki Hulâsatü’l-hey’e disusun.
  • 1824: Terjemahan bahasa Turki Mir’âtü’l-âlem disusun.
  • 2024: Peringatan 550 tahun kematiannya masuk dalam program peringatan UNESCO.

Wafat di Istanbul dan peringatan pada masa berikutnya

Ali Qushji meninggal di Istanbul pada Desember 1474. TDV menyebut 15 Desember. Universitas Istanbul Medeniyet menyebut 17 Desember dan mengidentifikasinya sebagai 7 Şaban 879. Kedua keterangan itu menempatkan kematiannya pada 1474. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Eyüp Sultan.

Peringatan 550 tahun kematiannya masuk dalam Program Peringatan UNESCO 2024 melalui pengajuan bersama Turki dan Uzbekistan. Peringatan itu menghubungkan negara-negara yang terkait dengan awal dan akhir perjalanannya: masa awal kehidupannya di Samarkand dan tahun-tahun terakhirnya sebagai pengajar di Istanbul.

FAQ

Siapa Ali Qushji?

Ali Qushji adalah astronom, matematikawan, dan ahli bahasa abad ke-15. Ia menimba ilmu di Samarkand, melanjutkan studinya di Kerman, dan akhirnya mengajar di Madrasah Hagia Sophia di Istanbul di bawah pemerintahan Mehmed II.

Siapa nama asli Ali Qushji?

Ali Qushji adalah cendekiawan yang juga dikenal sebagai Ali Kuşçu. Nama pribadinya adalah Alâeddin Ali. Ayahnya, Muhammed, menjabat sebagai kepala pemelihara elang pemburu Ulugh Beg.

Buku Ali Qushji mana yang digunakan untuk pelajaran matematika?

er-Risâletü’l-Muhammediyye fi’l-hisâb digunakan sebagai buku pelajaran matematika tingkat menengah di madrasah Utsmaniyah. Buku itu membahas perhitungan, persamaan kuadrat, luas permukaan, serta volume bangun ruang, termasuk bola dan kerucut.

Di mana Ali Qushji dimakamkan?

Makamnya berada di kompleks pemakaman Eyüp Sultan di Istanbul. Ia meninggal pada Desember 1474, setelah menetap di kota itu sekitar 1472 dan mendapat penugasan mengajar di Madrasah Hagia Sophia.

Sumber

  1. TDV Ensiklopedia Islam — Ali Kuşçu islamansiklopedisi.org.tr
  2. Universitas St Andrews, MacTutor — Ali Qushji mathshistory.st-andrews.ac.uk
  3. TDV Ensiklopedia Islam — er-Risâletü’l-Muhammediyye islamansiklopedisi.org.tr
  4. Universitas Istanbul Medeniyet — Ali Kuşçu Diperingati di Makamnya bilimtarihienstitu.medeniyet.edu.tr
  5. Komisi Nasional Turki untuk UNESCO — Peringatan dan Perayaan Hari Jadi unesco.org.tr

FAQ

Siapa Ali Qushji?

Ali Qushji adalah astronom, matematikawan, dan ahli bahasa abad ke-15. Ia menimba ilmu di Samarkand dan kemudian mengajar di Madrasah Hagia Sophia di Istanbul.

Apa saja buku karya Ali Qushji?

Karyanya mencakup risalah tentang Bulan Hallü eşkâli’l-kamer, karya astronomi er-Risâletü’l-Fethiyye, dan buku pelajaran matematika er-Risâletü’l-Muhammediyye fi’l-hisâb.

Apakah Ali Qushji berpendapat bahwa Bumi bisa berotasi?

Ia berpendapat bahwa bukti pengamatan yang sahih belum membuktikan secara meyakinkan bahwa Bumi diam. Ia juga menyatakan bahwa anggapan Bumi berotasi tidak serta-merta menimbulkan pertentangan.

Di mana Ali Qushji dimakamkan?

Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Eyüp Sultan di Istanbul. Ia meninggal pada Desember 1474, meskipun sumber-sumber menyebut tanggal yang berbeda.

Image: Mirzo Ulughbek and Ali Kushchi in the observatory.jpg — Davide Mauro, CC BY-SA 4.0

Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan. Setiap informasi dicocokkan dengan sumber dan tidak ada kalimat tanpa sumber yang diterbitkan. Jika Anda menemukan kesalahan, kirimi kami pesan. Kebijakan Sumber Kami · Hubungi kami →

Artikel terkait