Sejarah Dunia

Great Zimbabwe: Kota Batu Afrika yang Disangkal Eropa

Great Zimbabwe dibangun oleh leluhur masyarakat Shona, yang menumpuk balok granit tanpa mortar dan memerintah sebuah kerajaan abad pertengahan dari kota ini. Tokoh kolonial seperti Cecil Rhodes berusaha mengaitkan pembangunannya dengan bangsa asing, tetapi penggalian pada 1905 dan 1929 menunjukkan bahwa kota ini merupakan karya masyarakat Afrika.

Para sejarawan berbeda pendapat tentang topik ini: artikel ini membedakan fakta yang terdokumentasi dari penafsiran dan mencantumkan sumbernya. Kebijakan Sumber Kami →

7 menit baca10 sumberDiterbitkan: 2 November 2026Terakhir diperiksa: 2 November 2026
Tim redaksi Köküne Kadar TVKebijakan Sumber Kami
Great Zimbabwe: Kota Batu Afrika yang Disangkal Eropa
Great-zim-aerial-looking-West.JPG

Bayangkan Anda melihat dinding dari balok-balok granit. Batu-batu itu ditumpuk tanpa semen dan tetap berdiri selama berabad-abad di perbukitan Afrika bagian selatan. Pada abad ke-19, sebagian orang Eropa melihatnya dan menolak percaya bahwa orang Afrika yang membangunnya. Bukti menunjukkan sebaliknya. Artikel ini menjelaskan siapa pembangun Zimbabwe Raya, yang dikenal sebagai Great Zimbabwe, apa saja isi reruntuhannya, serta bagaimana mitos kolonial dibentuk lalu dipatahkan.

Siapa yang membangun Great Zimbabwe?

Leluhur masyarakat Shona membangun Great Zimbabwe. Masyarakat Shona tinggal di wilayah Zimbabwe sekarang dan daerah sekitarnya. Pembangunan monumental dimulai pada abad ke-11 dan berlanjut hingga abad ke-15. Sejak abad ke-13, kota ini menjadi ibu kota Kerajaan Zimbabwe Raya.

Lembaga Museum dan Monumen Nasional Zimbabwe (NMMZ) menyebut situs ini sebagai permukiman prakolonial terbesar di kawasan Afrika bagian selatan. Negara Zimbabwe modern mengambil namanya dari situs ini. Jadi, pertanyaan tentang siapa pembangunnya punya jawaban yang jelas. Pertanyaan yang lebih sulit adalah mengapa hal itu pernah diperdebatkan.

Di mana letak Great Zimbabwe? Panduan membaca peta

Jika Anda mencari Great Zimbabwe di peta, temukan kota Masvingo di Zimbabwe bagian selatan. Reruntuhannya berjarak sekitar 30 kilometer dari kota itu. Situs ini berada pada ketinggian sekitar 1,100 meter di atas permukaan laut.

Tempat ini bukan lokasi yang kebetulan Anda lewati. Anda perlu datang secara khusus. Rencanakan kunjungan sehari dari Masvingo. Bersiaplah untuk mendaki karena salah satu dari tiga kelompok reruntuhan utamanya berada di bukit.

Reruntuhan: tiga kelompok bangunan

Situs ini memiliki tiga kelompok struktur utama:

  • Reruntuhan Bukit,
  • Kompleks Bertembok Besar,
  • Reruntuhan Lembah.

Kompleks Bertembok Besar berada di sebelah selatan perbukitan. Bentuknya oval. UNESCO memperkirakan kompleks ini berasal dari abad ke-14. Di antara dua dindingnya berdiri sebuah menara berbentuk kerucut. Tingginya sekitar 9 meter dengan diameter 5.5 meter.

Bagaimana dindingnya berdiri tanpa mortar?

Dinding batu dibuat dengan menumpuk balok-balok granit. Para pembangunnya tidak memakai mortar maupun bahan perekat lainnya.

Bayangkan Anda menumpuk buku di rak. Setiap buku bertumpu pada buku di bawahnya. Tumpukan hanya bisa tegak jika setiap buku ditempatkan dengan cermat. Sekarang bayangkan melakukannya dengan granit, dalam skala sebuah kota.

Di dalam kawasan berdinding batu itu, penduduk tinggal di rumah berbahan daga. Daga adalah campuran pasir granit dan tanah liat. Jadi, kota ini memadukan dua bahan: batu untuk dinding-dinding besar dan daga untuk rumah.

Imperium Great Zimbabwe: perdagangan dan ternak sapi

Orang sering mencari istilah “imperium Great Zimbabwe”. Namun, catatan situs ini sendiri menyebut sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Zimbabwe Raya. Great Zimbabwe menjadi ibu kotanya sejak abad ke-13. Itulah istilah yang tepat digunakan.

Kota ini tidak terisolasi. Arkeolog menemukan keramik Tiongkok dan Iran, manik-manik kaca, serta koin Kilwa di situs ini. Temuan tersebut menunjukkan keterlibatan kota ini dalam jaringan perdagangan jarak jauh.

Barang impor hanyalah sebagian dari ceritanya. Arkeolog Shadreck Chirikure menerbitkan sebuah kajian pada 2019. Ia menentang model yang menjelaskan perekonomian hanya melalui barang mewah impor. Pendekatannya menempatkan kegiatan produksi dan peredaran barang musiman oleh rumah tangga sebagai pusat perhatian.

Ternak sapi juga berperan penting. Banyak tulang sapi ditemukan di situs ini. Temuan itu menunjukkan pentingnya peternakan dalam kehidupan ekonomi dan politik permukiman tersebut. Jika Anda hanya membayangkan kekayaan sebagai emas dan manik-manik kaca, temuan ini membantu meluruskan pandangan itu.

Berapa jumlah penduduknya?

Perkiraan yang umum menyebut jumlah penduduknya mencapai 18,000 hingga 20,000 orang. Pada 2017, Chirikure dan rekan-rekannya menerbitkan studi pemodelan. Studi itu mengusulkan perkiraan yang jauh lebih rendah. Jumlah penduduknya masih diperdebatkan. Karena itu, Anda perlu berhati-hati saat menerima satu angka tertentu.

Studi 2017 yang sama juga mempertanyakan cerita lain yang sudah dikenal luas. UNESCO menyebut situs ini ditinggalkan sekitar 1450. Sebaliknya, studi tersebut mengidentifikasi fase hunian dari 1700 hingga 1890. Temuannya tidak mendukung gagasan bahwa seluruh permukiman menjadi kosong pada satu waktu yang sama.

Ada pula detail yang lebih kecil. Bagian situs yang sekarang menjadi tempat parkir dihuni sekitar 1450 hingga 1660. Masa itu lebih akhir daripada periode hunian utama Kompleks Bukit.

Air: untuk apa lubang-lubang tanah liat itu?

Para peneliti dahulu menafsirkan lubang dhaka sebagai tempat penggalian tanah liat. Sebuah studi pada 2022 menyimpulkan bahwa lubang-lubang itu juga digunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan air. Jadi, lubang tersebut bukan sekadar sisa kegiatan pembangunan.

Pada 2023, Universitas Pretoria mengumumkan penelitian terkait. Para peneliti memeriksa lubang-lubang itu dengan LiDAR. Mereka menghitung bahwa secara keseluruhan lubang-lubang tersebut dapat menampung sedikitnya 18,000 meter kubik air sekaligus.

Anda bisa menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Banyak rumah tangga menyimpan air hujan dalam tong atau tangki untuk menghadapi pekan-pekan kering. Penduduk Great Zimbabwe menangani persoalan yang sama dalam skala kota. Studi itu menyebutnya sebagai pengelolaan air yang adaptif terhadap iklim.

Awal mula mitos tentang pembangun dari luar Afrika

Karl Mauch memperkenalkan Great Zimbabwe kepada dunia Barat pada 1871. Namun, tempat ini tidak pernah hilang. Penduduk setempat selalu mengetahui keberadaannya.

Lalu muncul klaim tersebut. Cecil Rhodes mengaitkan kota ini dengan peradaban kuno Mediterania atau Fenisia. Klaim itu bertumpu pada prasangka bahwa orang Afrika tidak mampu membangun struktur semacam ini. Penggalian berikutnya membantahnya.

Kerusakan situs membuat persoalan ini lebih sulit dituntaskan. Arkeolog Roger Summers mencatat bahwa pencarian emas tanpa izin di situs tersebut berlangsung hingga 1902. Kegiatan itu menghancurkan berhektare-hektare endapan arkeologis. Lapisan-lapisan tersebut mungkin dapat menjawab pertanyaan yang masih terbuka hingga sekarang.

Dua penyelidikan kemudian memastikan pokok persoalannya:

  • Pada 1905, David Randall-MacIver melakukan penggalian di situs ini. Ia menyimpulkan bahwa struktur-strukturnya dibangun pada Abad Pertengahan oleh leluhur Shona.
  • Pada 1929, Gertrude Caton-Thompson melakukan penelitiannya sendiri. Hasilnya menegaskan asal-usul Afrika dari Great Zimbabwe. Temuan itu mendukung kesimpulan Randall-MacIver dari 24 tahun sebelumnya.

Perdebatan tidak berakhir setelah bukti ilmiah tersedia. Di bawah Ian Smith, Front Rhodesia memerintahkan para pegawainya agar tidak menyatakan secara tegas dalam publikasi resmi bahwa Great Zimbabwe dibangun oleh orang Afrika. Dengan demikian, sebuah lembaga resmi meminta stafnya menghindari kesimpulan yang sudah dicapai melalui penggalian.

Monumen Nasional Zimbabwe Raya: apa yang perlu diperhatikan?

Monumen Nasional Zimbabwe Raya masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1986. UNESCO mencatat luas kawasan Warisan Dunia ini sebesar 722 hektare.

Jika Anda mencari foto monumen ini, dua gambar paling sering muncul. Yang pertama adalah dinding batu melengkung di Kompleks Bertembok Besar. Yang kedua adalah burung yang dipahat dari batu sabun. Di bagian timur Reruntuhan Bukit ditemukan enam pilar batu sabun. Masing-masing memiliki figur burung di puncaknya. Burung Zimbabwe, yang terinspirasi oleh burung-burung batu sabun ini, menjadi lambang nasional negara tersebut.

Linimasa

  • Abad ke-11: Pembangunan monumental dimulai di Great Zimbabwe.
  • Abad ke-13: Kota ini menjadi ibu kota Kerajaan Zimbabwe Raya.
  • Abad ke-14: Menurut UNESCO, Kompleks Bertembok Besar dibangun.
  • 1450–1660: Permukiman berlanjut di kawasan yang sekarang menjadi tempat parkir.
  • 1700–1890: Studi 2017 menggolongkan rentang ini sebagai fase hunian yang lebih akhir.
  • 1871: Kunjungan Karl Mauch menarik perhatian dunia Barat pada reruntuhan yang sudah lama dikenal penduduk setempat.
  • 1905: Penggalian David Randall-MacIver mendukung asal-usul dari masyarakat Afrika setempat.
  • 1929: Penelitian Gertrude Caton-Thompson menegaskan asal-usul Afrika.
  • 1986: Monumen Nasional Zimbabwe Raya masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO.
  • 2022: Sebuah studi menunjukkan bahwa lubang dhaka juga digunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan air.

Detail yang tidak akan Anda temukan dalam buku panduan

  • Lambang dengan ironi tersendiri. Kubah tembaga Rhodes House di Oxford memuat lambang Burung Zimbabwe. Cecil Rhodes mengadopsinya, meskipun ia tidak mengakui bahwa orang Afrika merupakan pembangun tempat asal lambang itu.
  • Lubang dengan dua fungsi. Lubang dhaka awalnya ditafsirkan sebagai lokasi penggalian tanah liat. Studi 2022 menunjukkan bahwa lubang-lubang itu juga menampung air.
  • Tempat parkir dengan riwayat hunian. Kawasan yang sekarang menjadi tempat parkir dihuni sekitar 1450 hingga 1660, setelah periode hunian utama Kompleks Bukit.
  • Enam burung, enam pilar. Di bagian timur Reruntuhan Bukit ditemukan enam pilar batu sabun dengan figur burung di puncaknya. Dari sinilah lambang burung nasional berasal.
  • Petunjuk dalam nama. Negara Zimbabwe mengambil namanya dari kota ini, bukan sebaliknya.

Catatan praktis untuk pengunjung

Reruntuhan ini berjarak sekitar 30 kilometer dari Masvingo. Jadikan kota itu sebagai tempat menginap selama kunjungan Anda. Kenakan sepatu yang cocok untuk mendaki karena Reruntuhan Bukit berada di tempat tinggi. Jelajahi ketiga kelompok secara berurutan: bukit, Kompleks Bertembok Besar, lalu lembah. Anda akan melihat bagaimana kota ini membentang mengikuti bentang alam. Perhatikan permukaan dindingnya dari dekat. Anda tidak akan menemukan mortar, hanya batu yang bertumpu pada batu.

FAQ

Siapa yang membangun Great Zimbabwe?

Leluhur masyarakat Shona. Penggalian pada 1905 dan penelitian pada 1929 sama-sama menunjukkan asal-usul Afrika.

Di mana letak Great Zimbabwe?

Di Zimbabwe bagian selatan, sekitar 30 kilometer dari Masvingo, pada ketinggian sekitar 1,100 meter di atas permukaan laut.

Mengapa orang Eropa menyangkalnya?

Cecil Rhodes dan tokoh lainnya mengaitkan kota ini dengan peradaban kuno Mediterania atau Fenisia. Klaim itu bertumpu pada prasangka bahwa orang Afrika tidak mampu membangun struktur semacam ini.

Kapan kota ini dibangun?

Pembangunan monumental dimulai pada abad ke-11 dan berlanjut hingga abad ke-15. Kota ini menjadi ibu kota kerajaan sejak abad ke-13.

Apakah situs ini termasuk Situs Warisan Dunia?

Ya, sejak 1986.

Sumber

  1. Wikipedia — Zimbabwe Raya en.wikipedia.org
  2. UNESCO — Monumen Nasional Zimbabwe Raya whc.unesco.org
  3. NMMZ — Wilayah Selatan, Masvingo nmmz.co.zw
  4. Journal of Archaeological Research — Perspektif Baru tentang Ekonomi Politik Zimbabwe Raya link.springer.com
  5. PLOS ONE — Berapa jumlah penduduk Zimbabwe Raya (CE1000–1800)? journals.plos.org
  6. Sekolah Arkeologi Oxford — Pengumpulan dan penyimpanan air yang adaptif terhadap iklim arch.ox.ac.uk
  7. Universitas Pretoria — Studi yang terkait dengan UP mengungkap strategi penyimpanan air yang adaptif terhadap iklim up.ac.za
  8. Nature — Zimbabwe, 19 Oktober 1929 nature.com
  9. Antiquity — Penentuan usia Reruntuhan Zimbabwe cambridge.org
  10. Vikipedi — Zimbabwe Raya tr.wikipedia.org

Image: Great-zim-aerial-looking-West.JPG — Janice Bell, CC BY-SA 4.0

Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan. Setiap informasi dicocokkan dengan sumber dan tidak ada kalimat tanpa sumber yang diterbitkan. Jika Anda menemukan kesalahan, kirimi kami pesan. Kebijakan Sumber Kami · Hubungi kami →

Artikel terkait