Syah (bahasa Turki: Şah) berarti “raja” dalam bahasa Persia. Kata ini berasal dari bahasa Persia Kuno, xšāyaθiya. Syahansyah (bahasa Turki: Şehinşah) berarti “raja segala raja”. Padanannya adalah xšāyaθiya xšāyaθiyānām dalam bahasa Persia Kuno dan šāhān šāh dalam bahasa Persia Pertengahan. Kedua gelar ini merupakan bagian dari tradisi kekuasaan raja di Iran.
Bagaimana kata yang berarti “raja” menghubungkan prasasti kerajaan, perubahan inskripsi koin, dan puisi istana? Jika Anda mengikuti jejak syah dari Darius I hingga para penguasa Sasaniyah dan istana Islam pada masa berikutnya, Anda dapat menelusuri gelar beserta gagasan yang melekat padanya. Bentuk-bentuk terkaitnya juga membawa kita kepada raja-raja Armenia, penguasa Afganistan, serta pangeran Utsmaniyah dan Mughal.
Dari mana asal kata syah dalam bahasa Persia Kuno?
Syah berasal dari kata Persia Kuno xšāyaθiya, yang berarti “raja”. Akarnya adalah verba xšāy-, yang berarti “memerintah” atau “bertakhta”. Dengan demikian, kata ini menghubungkan gelar penguasa secara langsung dengan tindakan memerintah.
Padanan Persia Kuno untuk syah dan syahansyah tercatat dalam tradisi kerajaan Akhemeniyah (bahasa Turki: Ahameniş) pada masa Darius I (bahasa Turki: I. Darius). Sejarahnya berakar pada lingkungan tersebut, jauh sebelum keduanya muncul dalam puisi istana Islam atau gelar penguasa Afganistan pada masa berikutnya.
Darius juga menghubungkan kosakata ini dengan sebuah tempat nyata: Persepolis. Menurut penanggalan UNESCO, ia mendirikan Persepolis pada 518 SM dan mulai membangun kompleks istana kerajaan Akhemeniyah di sana. Situs ini menempatkan sejarah awal gelar-gelar tersebut dalam sebuah proyek pembangunan kerajaan yang dapat diidentifikasi.
Perbedaan bahasa ini penting ketika Anda membaca tentang berbagai periode. Xšāyaθiya adalah kata Persia Kuno yang menjadi asal syah. Ungkapan Persia Kuno yang lebih panjang, xšāyaθiya xšāyaθiyānām, berpadanan dengan gelar Persia Pertengahan šāhān šāh. Bentuk-bentuk ini menghubungkan gelar yang kita kenal dengan bahasa kerajaan Iran yang lebih tua.
Apa perbedaan gelar syah dan syahansyah?
Syah berarti “raja”. Syahansyah berarti “raja segala raja”. Gelar kedua menyatakan hubungan antara penguasa dan raja-raja lain. Jika keduanya hanya diterjemahkan sebagai “raja”, perbedaan itu hilang.
Rumusan gelar Sasaniyah (bahasa Turki: Sasani) memperlihatkan perbedaan tersebut dengan sangat jelas. Sekitar 224 hingga 439 M, gelar inti kerajaan adalah šāhān šāh Ērān, yang berarti “raja segala raja bangsa Iran”. Di sini, “bangsa Iran” menentukan komunitas yang disebut dalam gelar itu.
Syapur I (bahasa Turki: I. Şapur) memperluas rumusan yang dipakai Ardashir I (bahasa Turki: I. Erdeşir). Ia menambahkan ud An-ērān, sehingga gelarnya menjadi “raja segala raja bangsa Iran dan non-Iran”. Tambahan singkat ini mengubah cakupan kekuasaan kerajaan yang dinyatakan.
Anda dapat memakai terjemahannya sebagai panduan membaca: syah adalah “raja”, sedangkan syahansyah adalah “raja segala raja”. Perhatikan pula kata-kata tambahan ketika gelar lengkap muncul. “Bangsa Iran” dan “bangsa Iran dan non-Iran” menyampaikan klaim yang berbeda.
Bagaimana gelar raja Sasaniyah dituliskan pada koin?
Koin dan prasasti Sasaniyah awal memakai rumusan panjang: mazdēsn bay [nama penguasa] šāhān šāh Ērān kē čihr az yazdān. Rumusan ini menggabungkan pemujaan Mazda, gelar raja segala raja, dan klaim penguasa sebagai keturunan ilahi. Nama raja menjadi bagian dari pernyataan yang lebih luas tentang kekuasaan kerajaan.
Dengan demikian, gelar pada koin dapat menyampaikan lebih dari sekadar identitas penerbitnya. Rumusan awal itu menyatakan kesetiaan agama dan asal-usul ilahi sekaligus kedudukan raja. Jika Anda hanya membaca nama penguasanya, banyak isi inskripsi yang terlewat.
Tulisan pada koin Sasaniyah juga berubah. Pada masa Yazdegerd II (bahasa Turki: II. Yezdicerd), šāhān šāh Ērān menghilang dari gelar pada koin dan digantikan oleh kay. Gelar ini membangkitkan gambaran tentang kekuasaan raja dalam legenda dan kisah kepahlawanan. Kosakata kerajaannya telah bergeser, meskipun benda-benda tersebut tetap berupa koin kerajaan.
Inskripsi pada masa berikutnya menempatkan ungkapan lain di samping nama penguasa. Sejak tahun keenam pemerintahan Khosrau I (bahasa Turki: I. Hüsrev), koinnya memakai abzōn, yang berarti “pertambahan”. Pada masa Khosrau II (bahasa Turki: II. Hüsrev), nama raja diikuti xwarrah abzūd, yang berarti “kemuliaan kerajaan telah bertambah”. Ungkapan-ungkapan ini secara tegas menjadikan pertambahan dan kemuliaan kerajaan sebagai bagian dari teks pada koin.
Bagaimana tradisi kerajaan Iran berlanjut pada masa Islam?
Tradisi kerajaan Iran berlanjut melalui penerjemahan, puisi, bahasa politik, dan koin. Pada abad ke-8, Ibnu al-Muqaffa (bahasa Turki: İbnü’l-Mukaffa) mengadaptasi Xwadāy-nāmag dari bahasa Persia Pertengahan ke bahasa Arab. Karya itu membahas para penguasa Sasaniyah. Adaptasi bahasa Arabnya tidak bertahan hingga kini.
Firdausi (bahasa Turki: Firdevsî) memberikan bentuk sastra lain kepada kisah-kisah kerajaan Iran pra-Islam melalui Syahnameh (bahasa Turki: Şehnâme). Ia mengolah kembali kisah lisan dan tertulis menjadi puisi. Dengan demikian, ingatan tentang kerajaan terus hidup melalui cerita para raja Iran terdahulu, sekaligus melalui pemakaian gelar kerajaan.
Pada abad ke-11, wazir Seljuk Nizam al-Mulk (bahasa Turki: Nizâmülmülk) memakai konsep Iran lama, farr, dalam ungkapan farr-e elāhi, yang berarti “karunia ilahi”. Pemakaian ini membawa gagasan legitimasi kerajaan yang telah mapan ke dalam bahasa politik Islam.
Puisi istana juga mempertahankan syahansyah. Para penyair di istana Ghaznawiyah (bahasa Turki: Gazneliler) memuji Sultan Mahmud, yang memerintah dari 998 hingga 1030, dengan gelar tersebut. Dalam lingkungan ini, “raja segala raja” menjadi bagian dari bahasa pujian bagi penguasa.
Koin memberikan contoh lain. Pada masa pemerintahan penguasa Buwaihi Rukn al-Dawla Hasan (bahasa Turki: Rüknüddevle Hasan), dari 947 hingga 977, sisi belakang koin memuat harapan dalam bahasa Persia Pertengahan agar kemuliaan syahansyah bertambah. Bahasa kerajaan Iran dengan demikian muncul pada koin maupun dalam karya sastra.
Tradisi politik mana di luar Iran yang memakai gelar syah?
Penguasa Afganistan memakai gelar syah hingga monarki Afganistan dihapuskan pada 1973. Para penguasa Bagratuni di Armenia (bahasa Turki: Ermenistan) memakai syahansyah, yang berarti “raja segala raja”, dimulai dari Ashot II (bahasa Turki: II. Aşot). Contoh-contoh ini memperlihatkan pemakaian kedua gelar dalam tradisi kerajaan di luar Iran.
Istana Utsmaniyah (bahasa Turki: Osmanlı) dan Mughal (bahasa Turki: Babür) memakai gelar terkait, syahzade, untuk para pangeran. Asalnya adalah kata Persia šāhzāda, yang berarti “keturunan syah”. Bagi Anda yang sedang bepergian dan membaca tentang seorang pangeran Utsmaniyah, kata asing itu lebih mudah dipahami setelah Anda mengenali unsur syah dalam şehzade.
Tradisi kerajaan Iran timur juga memakai “raja segala raja” dalam berbagai bahasa. Koin Saka dari abad pertama M memuat bentuk Yunani ΒΑΣΙΛΕΩΣ ΒΑΣΙΛΕΩΝ. Pada masa Kushan (bahasa Turki: Kuşan), bahasa Baktria yang ditulis dengan alfabet Yunani menggantikan bahasa Yunani dalam inskripsi koin. Gelar Kushan Šaonano Šao juga berarti “raja segala raja”.
Gelar Kushanshah dipakai oleh para penguasa di sebagian wilayah Iran timur, Afganistan, dan Gandhara. Pemakaiannya berlangsung antara penaklukan Sasaniyah pada abad ke-3 dan invasi Hun pada abad ke-4 serta ke-5. Sejarahnya perlu dibaca dengan cermat. Catatan tentang kampanye militer Ardashir I mungkin menunjukkan ketundukan formal di Baktria, bukan memastikan terjadinya aneksasi.
Detail yang tidak Anda temukan dalam buku panduan
Contoh paling awal dari gelar Kushanshah yang penanggalannya dapat dipastikan muncul dalam prasasti Paikuli milik penguasa Sasaniyah Narseh (bahasa Turki: Narse), sekitar 293 M. Dinasti Kushan yang asli memakai “Kushan” dan “raja segala raja”, tetapi tidak menggabungkannya menjadi satu gelar Kushanshah. Jadi, kosakata yang tampak serupa dapat berasal dari praktik pemberian gelar yang berbeda.
Inskripsi koin Khosrau I memberikan detail lain yang mudah terlewat. Sejak tahun keenam pemerintahannya, namanya muncul bersama abzōn, “pertambahan”, alih-alih syahansyah atau kay. Mengenali kata singkat ini membantu Anda mengikuti perubahan yang tidak akan terlihat dalam daftar nama raja.
Bahasa pada koin Rukn al-Dawla Hasan juga memiliki arti penting. Harapan agar kemuliaan syahansyah bertambah ditulis dalam bahasa Persia Pertengahan selama pemerintahannya pada 947–977. Kesinambungan itu mencakup rumusan dan bahasa kerajaan, sekaligus kelanjutan pemakaian gelar kerajaan.
Linimasa
- 518 SM: Darius I mendirikan Persepolis dan mulai membangun kompleks istana kerajaan Akhemeniyah di sana.
- Sekitar 224–439 M: “Raja segala raja bangsa Iran” menjadi inti rangkaian gelar kerajaan Sasaniyah.
- Sekitar 293 M: Kushanshah tercatat dalam prasasti Paikuli milik Narseh.
- Pada masa Yazdegerd II: Kay menggantikan šāhān šāh Ērān dalam gelar pada koin Sasaniyah.
- Abad ke-8: Ibnu al-Muqaffa membawa kisah-kisah kerajaan Sasaniyah ke dalam bahasa Arab.
- 947–977: Koin Rukn al-Dawla Hasan memuat harapan dalam bahasa Persia Pertengahan bagi kemuliaan syahansyah.
- 998–1030: Para penyair istana memuji Mahmud dari Ghazni sebagai syahansyah.
- 1973: Afganistan menghapuskan monarkinya.
- 1979: Monarki Iran berakhir melalui Revolusi. Mohammad Reza Pahlavi adalah syah terakhirnya.
FAQ
Apa arti syah dalam bahasa Inggris?
Syah berarti “king” atau “raja” dalam bahasa Persia. Bentuk pendahulunya dalam bahasa Persia Kuno adalah xšāyaθiya, yang berkaitan dengan verba xšāy-, “memerintah” atau “bertakhta”.
Apakah syahansyah sama artinya dengan syah?
Syahansyah berarti “raja segala raja”, sedangkan syah berarti “raja”. Gelar yang lebih panjang itu berpadanan dengan šāhān šāh dalam bahasa Persia Pertengahan dan xšāyaθiya xšāyaθiyānām dalam bahasa Persia Kuno.
Apakah setiap koin Sasaniyah memakai syahansyah?
Tidak. Gelar pada koin Yazdegerd II memakai kay sebagai pengganti šāhān šāh Ērān. Khosrau I dan Khosrau II memakai ungkapan tentang pertambahan dan kemuliaan kerajaan di samping nama mereka.
Apakah syah dipakai di luar Iran?
Ya. Penguasa Afganistan memakai syah hingga 1973. Raja-raja Bagratuni di Armenia memakai syahansyah. Istana Utsmaniyah dan Mughal memakai gelar pangeran yang terkait, yaitu syahzade.
Siapa syah terakhir Iran?
Mohammad Reza Pahlavi adalah syah terakhir Iran. Monarki berakhir akibat Revolusi 1979.
Sumber
- Wikipedia — Shah en.wikipedia.org
- Encyclopaedia Iranica — Kekuasaan Raja VI: Konsep Kekuasaan Raja Persia pada Masa Islam iranicaonline.org
- Pusat Warisan Dunia UNESCO — Persepolis whc.unesco.org
- Encyclopaedia Iranica — Kekuasaan Raja IV: Di Iran Sasaniyah iranicaonline.org
- Encyclopaedia Iranica — Kushanshah I: Sejarah iranicaonline.org
- Encyclopaedia Iranica — Kekuasaan Raja V: Di Wilayah Iran Timur iranicaonline.org
- Vikipedi — Şah tr.wikipedia.org
FAQ
Apa arti syah dalam bahasa Inggris?
Syah berarti king atau raja dalam bahasa Persia. Asalnya adalah kata Persia Kuno xšāyaθiya, dengan akar verba xšāy- yang berarti memerintah atau bertakhta.
Apa perbedaan syah dan syahansyah?
Syah berarti raja, sedangkan syahansyah berarti raja segala raja. Bentuk Persia Pertengahan šāhān šāh berpadanan dengan ungkapan Persia Kuno xšāyaθiya xšāyaθiyānām.
Apakah koin Sasaniyah selalu menyebut penguasanya syahansyah?
Tidak. Pada masa Yazdegerd II, kay menggantikan šāhān šāh Ērān dalam gelar pada koin. Kemudian, inskripsi koin pada masa Khosrau I dan Khosrau II memakai ungkapan tentang pertambahan dan kemuliaan kerajaan.
Apakah gelar syah digunakan di luar Iran?
Ya. Penguasa Afganistan memakai gelar syah hingga monarki berakhir pada 1973. Penguasa Bagratuni di Armenia memakai syahansyah, sementara istana Utsmaniyah dan Mughal memakai gelar terkait, syahzade, untuk para pangeran.
Siapa syah terakhir Iran?
Mohammad Reza Pahlavi adalah syah terakhir Iran. Monarki Iran berakhir melalui Revolusi 1979.
Image: Shah Mosque (Isfahan).jpg — Amir Pashaei, CC BY-SA 4.0






