Sejarah Dunia

Invasi Mongol ke Jepang 1274 dan 1281: Angin Kamikaze

Kubilai Khan mengirim dua armada untuk menyerang Jepang pada 1274 dan 1281, tetapi keduanya gagal. Topan 1281 terdokumentasi dengan baik, badai 1274 masih diperdebatkan, dan bangkai kapal di lepas pantai Takashima menjadi bukti fisik.

8 menit baca11 sumberDiterbitkan: 2 November 2026Terakhir diperiksa: 2 November 2026
Tim redaksi Köküne Kadar TVKebijakan Sumber Kami
Invasi Mongol ke Jepang 1274 dan 1281: Angin Kamikaze
Mōko Shūrai Ekotoba.jpg

Jawaban singkat: berapa kali Mongol menginvasi Jepang?

Dua kali. Invasi Mongol ke Jepang yang dilancarkan Kubilai Khan pada 1274 dan 1281 sama-sama berakhir dengan kemenangan Jepang. Dalam bahasa Jepang, keduanya dikenang dengan sebutan Genkō. Ekspedisi pertama disebut Bun’ei, sedangkan yang kedua disebut Kōan.

Pasukan penyerbu tidak seluruhnya orang Mongol. Prajurit dan pelaut juga datang dari Tiongkok yang dikuasai Dinasti Yuan serta Kerajaan Goryeo di Korea. Jadi, ketika Anda membaca istilah “armada Mongol”, bayangkan pasukan gabungan dari beberapa wilayah asal.

Ekspedisi kedua adalah yang paling terkenal. Topan menerjang armada penyerbu pada Agustus 1281. Orang Jepang menyebut badai itu kamikaze, yang berarti “angin dewa”.

Mengapa Kubilai Khan mengirim kapal ke Jepang?

Semuanya bermula dari sepucuk surat. Pada 1268, surat Kubilai disampaikan kepada istana kekaisaran Jepang. Pemerintah Jepang tidak mengirim balasan.

Sikap diam itu tidak mengakhiri persoalan. Kubilai mengirim rombongan utusan baru pada 1275 dan 1279. Para anggotanya dieksekusi di Jepang. Eksekusi terhadap dua rombongan utusan menyisakan sedikit ruang untuk berunding.

Ekspedisi 1274: dari Tsushima ke Teluk Hakata

Untuk membayangkan petanya, Anda bisa mulai dari Korea lalu bergerak ke tenggara. Armada 1274 berlayar dari Korea dengan rute yang jelas. Tujuan pertamanya adalah Tsushima, lalu Iki, kemudian Teluk Hakata di Kyūshū.

Royal Armouries mencantumkan tanggal pendaratan tersebut. Pada pagi 5 November 1274, pasukan penyerbu mendarat di Sasuura, Tsushima, dan mengalahkan pasukan pertahanan setempat. Itulah jawaban tentang posisi Tsushima dalam invasi ini: pulau tersebut menjadi tempat pertama yang diserang.

Pasukan utama mendarat di Teluk Hakata pada 19 November 1274. Pasukan Yuan maju dalam barisan rapat dan menerima arahan melalui isyarat genderang.

Dari pihak Jepang, ada catatan yang menggambarkan pertempuran dengan sangat hidup. Takezaki Suenaga, seorang prajurit dari Higo, menyerang pasukan Yuan pada 1274 dengan hanya lima orang pendamping. Ia kembali bertempur pada 1281. Pertempurannya digambarkan dalam gulungan bergambar bernama Mōko Shūrai Ekotoba. Salah satu adegannya memperlihatkan senjata berbahan mesiu bernama tetsuhau yang meledak saat pertempuran 1274.

Apakah ada topan pada 1274?

Di sinilah kisah sejarah populer berbeda dengan sumbernya. Riwayat Dinasti Yuan menggambarkan badai yang menimbulkan kerugian bagi armada 1274. Namun, belum jelas apakah badai itu menerjang kapal-kapal di Hakata atau saat perjalanan pulang ke Korea.

Menurut kisah yang diwariskan, topan menjadi penyebab kekalahan pada 1274. Ulasan Universitas Wina mempertanyakan klaim ini. Ulasan tersebut menyoroti bahwa Mōkō shūrai ekotoba dan Hachiman gudōkun tidak menyebut angin semacam itu pada tahun tersebut.

Karena itu, kesimpulan yang dapat dipegang adalah sebagai berikut. Badai pada 1274 disebut dalam riwayat Dinasti Yuan, tetapi lokasi dan besarnya pengaruh badai terhadap hasil ekspedisi masih diperdebatkan. Topan 1281 memiliki dukungan dokumentasi yang kuat.

Jepang bersiap: tembok Hakata

Setelah 1274, Jepang bersiap menghadapi serangan kedua. Mereka membangun garis pertahanan batu di sekitar Hakata. Menurut Arsip Nasional Jepang, panjangnya sekitar 20 kilometer. Tembok batu setinggi sekitar dua meter dibangun pada 1276.

Bayangkan Anda melihat tanggul banjir di sepanjang kota tepi sungai. Tanggul itu tidak menghentikan air. Fungsinya memperlambat aliran dan memberi waktu. Tembok ini bekerja dengan cara serupa. Para pemanah Jepang mendapat tempat untuk menembak, sementara pasukan penyerbu semakin sulit mempertahankan posisi di pantai.

Ekspedisi 1281: dua armada, satu masalah

Pada 1279, Yuan mengalahkan Dinasti Song Selatan. Kemenangan itu memungkinkan Kubilai mengirim armada dari Tiongkok selatan sekaligus dari Korea pada 1281.

Seberapa besar kekuatan mereka? Tidak ada kesepakatan. Perkiraan tradisional yang umum menyebut dua pasukan dengan total 140.000 orang: 40.000 dari Korea dan 100.000 dari Tiongkok selatan. Thomas Conlan membahas jumlah sekitar 14.000 orang. Morris Rossabi menolak angka rendah itu dan mengusulkan sekitar 70.000 prajurit dan pelaut. Bagi Anda sebagai pembaca, jawaban yang jujur adalah rentang yang lebar, bukan satu angka pasti.

Rencana ini bergantung pada ketepatan waktu. Armada Korea diperintahkan menunggu armada Tiongkok selatan di Iki. Namun, mereka tidak menunggu. Pada Juni, armada itu menyerang Kyūshū.

Jepang sudah siap. Para pemanah di balik tembok Hakata menyulitkan pasukan penyerbu membangun pijakan di pantai. Prajurit Jepang dengan perahu kecil menyerbu kapal-kapal musuh.

Topan 15 Agustus 1281

Pada 15 Agustus 1281, topan besar menerjang armada penyerbu yang sedang berlabuh. Badai itu menghancurkan kapal-kapal dan membuat banyak orang terkatung-katung di laut atau terdampar di pantai.

Royal Armouries menjelaskan apa yang terjadi pada kapal-kapal tersebut. Sebagian tenggelam. Sebagian terhempas ke bebatuan. Sejumlah nakhoda memotong tali jangkar untuk mencoba menyelamatkan kapal mereka.

Jika Anda pernah melihat perahu yang ditambatkan di pelabuhan saat angin kencang, Anda tahu masalahnya. Tali yang menahan perahu saat cuaca tenang justru bisa menyeretnya ke dalam bahaya. Armada yang berlabuh berdesakan di lepas pantai yang asing menghadapi bahaya serupa dalam skala jauh lebih besar.

Orang Jepang memandang badai itu sebagai tanda perlindungan ilahi. Mereka menamainya kamikaze, “angin dewa”.

Linimasa

  • 1268: Surat Kubilai tiba di istana kekaisaran Jepang. Tidak ada balasan yang dikirim.
  • 5 November 1274: Pasukan penyerbu mendarat di Sasuura, Tsushima.
  • 19 November 1274: Pasukan utama mendarat di Teluk Hakata.
  • 1274: Ekspedisi pertama berakhir dengan kemenangan Jepang. Lokasi dan dampak badai masih diperdebatkan.
  • 1275: Anggota rombongan utusan baru Yuan dieksekusi di Jepang.
  • 1276: Tembok pertahanan batu dibangun di Hakata.
  • 1279: Yuan mengalahkan Song Selatan. Utusan baru yang dikirim ke Jepang dieksekusi.
  • Juni 1281: Armada Korea menyerang Kyūshū tanpa menunggu armada Tiongkok selatan.
  • 15 Agustus 1281: Topan besar menghancurkan armada penyerbu.
  • 1974: Sebuah cap perunggu ditemukan di lepas pantai Takashima.
  • 1994: Jangkar kayu dengan pemberat batu ditemukan di Takashima.
  • 2011: Bagian dasar kapal Yuan yang masih terawetkan diidentifikasi di Takashima Kōzaki.
  • 27 Maret 2012: Takashima Kōzaki didaftarkan sebagai situs bersejarah nasional.
  • 2014: Penelitian sedimen tentang topan kamikaze diterbitkan dalam Geology.

Apakah bukti geologi mendukung kisah ini?

Para peneliti menguji kisah topan tersebut melalui geologi. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Geology pada 2014 menggunakan rekaman sedimen danau pesisir yang mencakup sekitar 2.000 tahun untuk memeriksa kisah kamikaze.

Hasilnya perlu dibaca dengan hati-hati. Tim menemukan dua lapisan endapan akibat banjir air laut dari akhir abad ke-13. Temuan ini mendukung gagasan tentang dua topan. Namun, para peneliti menyatakan bahwa kedua lapisan itu tidak dapat dipastikan berasal dari peristiwa 1274 dan 1281.

Detail yang tidak akan Anda temukan dalam buku panduan

  • Cap beraksara Phags-pa. Pada 1974, sebuah cap perunggu berukir aksara Phags-pa ditemukan di lepas pantai Takashima.
  • Jangkar yang masih di tempatnya. Dalam penggalian Takashima pada 1994, tiga jangkar kayu dari kayu ek merah tercatat masih berada di posisi aslinya di dasar laut, bersama pemberat batunya.
  • Mangkuk bertuliskan nama. Di antara sekitar 4.000 temuan di Takashima Kōzaki terdapat sebuah mangkuk seladon bertuliskan “Wang Baihu.”
  • Lunas kapal. Pada 2011, peneliti dari Universitas Ryūkyūs menemukan bagian dasar kapal Yuan di Takashima Kōzaki. Lunas dan papan lambung luarnya masih terawetkan. Panjang yang tercatat adalah 12 meter.
  • Yang pertama di Jepang. Pada 27 Maret 2012, Takashima Kōzaki menjadi situs arkeologi bawah air pertama di Jepang yang didaftarkan sebagai situs bersejarah nasional.
  • Lima pendamping. Serangan Suenaga pada 1274 dengan hanya lima pendamping tercatat dalam gulungan bergambarnya.

Adakah peta, film, atau buku?

Untuk membayangkan petanya, telusuri rute ini dalam benak Anda: Korea, Tsushima, Iki, lalu Teluk Hakata di Kyūshū. Situs bangkai kapal Takashima berada di lepas pantai di kawasan yang sama.

Untuk bacaan, mulailah dengan In Little Need of Divine Intervention karya Thomas Conlan. Buku ini menghimpun gulungan bergambar Suenaga dan terjemahan sekitar 70 dokumen administrasi. Halaman Arsip Nasional Jepang di bawah menyediakan pengantar singkat yang dapat dibaca gratis.

Tanya jawab

Berapa kali Mongol menginvasi Jepang?

Dua kali: pada 1274 (Bun’ei) dan 1281 (Kōan). Keduanya gagal.

Benarkah topan menghancurkan armada Mongol?

Pada 1281, ya. Topan besar menerjang armada yang sedang berlabuh pada 15 Agustus. Pada 1274, badai tercatat dalam riwayat Dinasti Yuan, tetapi lokasinya belum pasti dan perannya masih diperdebatkan.

Di mana invasi Mongol ke Jepang berlangsung?

Di Tsushima, Iki, dan sekitar Teluk Hakata di Kyūshū. Bangkai kapal telah ditemukan di lepas pantai Takashima.

Apa arti kamikaze?

“Angin dewa.” Itulah nama yang diberikan kepada badai yang dipandang orang Jepang sebagai perlindungan ilahi.

Siapa yang bertempur dalam pasukan penyerbu?

Orang Mongol, prajurit dan pelaut dari Tiongkok di bawah Dinasti Yuan, serta orang-orang dari Kerajaan Goryeo di Korea. Pada 1281, armada Tiongkok selatan ikut bergabung setelah Yuan mengalahkan Song Selatan pada 1279.

Sumber

  1. Wikipedia bahasa Turki — Ekspedisi Mongol ke Jepang tr.wikipedia.org
  2. Archaeology — Armada Kubilai Khan archaeology.org
  3. Arsip Nasional Jepang — Jepang dan Mongolia archives.go.jp
  4. Royal Armouries — Kamikaze: Invasi Mongol ke Jepang royalarmouries.org
  5. Wikipedia — Invasi Mongol ke Jepang en.wikipedia.org
  6. Universitas Wina — Agama di Jepang: Angin Dewa religion-in-japan.univie.ac.at
  7. GeoScienceWorld — Bukti Endapan untuk Topan Kamikaze pubs.geoscienceworld.org
  8. Universitas Negeri Worcester — Sedimen Menghubungkan Angin Kamikaze dengan Invasi Mongol news.worcester.edu
  9. Institut Penelitian Arkeologi Bawah Air Asia — Proyek Takashima ariua.org
  10. Basis Data Kekayaan Budaya Prefektur Nagasaki — Takashima Kōzaki pref.nagasaki.jp
  11. Departemen Sejarah Universitas Princeton — In Little Need of Divine Intervention history.princeton.edu

FAQ

Berapa kali Mongol menginvasi Jepang?

Dua kali. Kubilai Khan mengirim armada pertama pada 1274 dalam ekspedisi Bun’ei dan armada kedua pada 1281 dalam ekspedisi Kōan. Keduanya berakhir dengan kemenangan Jepang. Dalam tradisi Jepang, kedua invasi ini disebut Genkō.

Benarkah topan menghancurkan armada Mongol?

Untuk 1281, ya. Topan besar menerjang armada yang sedang berlabuh pada 15 Agustus 1281 dan menghancurkan banyak kapal. Untuk 1274, riwayat Dinasti Yuan menyebut adanya badai, tetapi lokasi terjangannya belum pasti. Sebuah ulasan Universitas Wina juga mencatat bahwa dua sumber Jepang tidak menyebut angin semacam itu pada tahun tersebut.

Di mana invasi Mongol ke Jepang berlangsung?

Di Tsushima, Iki, dan pesisir Kyūshū di sekitar Teluk Hakata. Bangkai kapal dari 1281 ditemukan di lepas pantai Takashima, sebuah pulau di Prefektur Nagasaki.

Apa arti kamikaze?

Dalam bahasa Jepang, artinya ‘angin dewa’. Nama ini diberikan kepada badai yang dipandang orang Jepang sebagai tanda perlindungan ilahi.

Buku apa yang paling baik untuk bacaan lanjutan?

In Little Need of Divine Intervention karya Thomas Conlan. Buku ini memadukan gulungan bergambar milik Takezaki Suenaga dengan terjemahan sekitar 70 dokumen administrasi.

Image: Mōko Shūrai Ekotoba.jpg — Author unknown. Illustration rolls were ordered by Takezaki , Public domain

Artikel ini disusun dengan bantuan kecerdasan buatan. Setiap informasi dicocokkan dengan sumber dan tidak ada kalimat tanpa sumber yang diterbitkan. Jika Anda menemukan kesalahan, kirimi kami pesan. Kebijakan Sumber Kami · Hubungi kami →

Artikel terkait