Bangsa Het (Hitit) meyakini bahwa dewa-dewa mereka membutuhkan makanan, minuman, dan tempat tinggal. Kuil adalah rumah dewa. Karena itu, pemujaan mencakup tugas-tugas praktis: menyediakan sesaji, merawat harta milik dewa, dan memastikan upacara terus berlangsung. Agama mereka menghubungkan kuasa ilahi dengan pekerjaan menyediakan makanan dan mengurus rumah tangga.
Dikenal sebagai “Bangsa Seribu Dewa”, bangsa Het mendirikan negara yang berpusat di Hattusa, di daerah aliran Sungai Kızılırmak, sekitar 1650 SM. Jajaran dewa mereka bertambah ketika mereka mengadopsi dewa dari wilayah taklukan. Jika Anda mengunjungi Hattusa atau Yazılıkaya di dekatnya, Anda akan menemukan jejak agama yang menyatukan banyak tradisi tanpa menghapus seluruh perbedaan setempat.
Apa agama bangsa Het?
Agama bangsa Het bersifat politeistis, yakni memuja banyak dewa. Jajaran dewanya mencakup dewa-dewa dari tradisi Hatti, Luwia, Pala, Hurri, dan Mesopotamia. Perluasan wilayah menambahkan nama dewa dan tradisi ke dalam kehidupan keagamaan yang sudah beragam. Ungkapan “seribu” menggambarkan kelimpahan itu. Angka tersebut bukan jumlah pasti seribu dewa yang telah terverifikasi.
Identitas setempat tetap penting dalam jajaran dewa yang luas ini. Kota-kota Het dapat mempertahankan dewa badai masing-masing. Dewa-dewa itu tidak selalu disatukan sebagai perwujudan dari satu dewa nasional. Karena itu, dewa badai setempat dapat tetap memiliki identitas tersendiri dalam sistem keagamaan yang lebih luas.
Bukti lain menunjukkan bahwa sejumlah dewa disamakan satu sama lain. Pada abad ke-13 SM, Ratu Puduhepa menyapa Dewi Matahari Arinna dan Hebat, dewi negeri-negeri aras, sebagai dewi yang sama. Doanya memperlihatkan hubungan yang berbeda dari pemisahan identitas dewa-dewa badai setempat yang tetap dipertahankan.
Dokumen keagamaan dari abad tersebut juga menata para dewa ke dalam kelompok yang disebut kaluti. Pengelompokan dewa dan penyamaan sebagian dewa merupakan dua unsur kehidupan keagamaan Het. Keduanya tidak menjadikan “seribu dewa” sebagai jumlah yang pasti.
Apakah bangsa Het percaya kepada dewa?
Ya, tetapi penggunaan kata tunggal perlu dicermati. Bangsa Het percaya kepada banyak dewa. Mereka juga meyakini bahwa makhluk gaib dan arwah orang mati dapat ikut campur dalam peristiwa sehari-hari. Keterlibatan kekuatan ilahi tidak terbatas pada saat orang memasuki kuil atau menghadiri perayaan.
Hubungan antara dewa dan manusia diibaratkan seperti hubungan tuan dan pelayan. Manusia diharapkan menyenangkan tuan ilahi mereka. Makanan, minuman, tempat tinggal, dan pelaksanaan kewajiban keagamaan yang benar menjadi bagian dari hubungan tersebut.
Praktik ramalan digunakan untuk menyelidiki kelalaian dalam menjalankan kewajiban itu. Teks orakel Het menanyakan apakah kemarahan dewa disebabkan oleh sesaji pemujaan yang terlupakan. Dengan demikian, sesaji yang terlewat dapat menjadi pokok penyelidikan keagamaan resmi. Pemujaan mencakup pemeriksaan kewajiban sekaligus pemenuhannya.
Bagaimana kuil dan persembahan dikelola?
Kuil dipahami sebagai rumah dewa. Karena para dewa diyakini membutuhkan perbekalan, perawatan mereka mencakup penyediaan sumber daya material. Pedoman bagi Petugas Kuil mengatur perlakuan terhadap hewan, ladang, dan benda milik dewa. Pedoman itu melarang petugas kuil menyalahgunakan harta tersebut.
Anda dapat menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Jika Anda merencanakan makanan atau mengurus rumah, Anda sudah memahami tuntutan praktis penyediaan pangan dan tempat tinggal. Kepercayaan Het menganggap para dewa memiliki kebutuhan serupa. Pelayanan di kuil menjadikan pemenuhan kebutuhan itu sebagai tanggung jawab keagamaan yang terorganisasi.
Persembahan juga membawa praktik pemujaan ke pedesaan. Di batu pemujaan huwaši, orang mempersembahkan bir, anggur, daging, roti, dan keju. Batu-batu suci ini menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan melampaui bangunan kuil. Sesajinya berupa makanan dan minuman yang lazim dikonsumsi, tetapi dipersembahkan dalam hubungan dengan dewa.
Daftar inventaris pemujaan setempat mencatat kondisi tempat suci dan perayaan di kota-kota serta desa-desa di wilayah provinsi. Catatan itu juga mendokumentasikan hubungan keagamaan antara pemerintahan pusat dan masyarakat setempat. Karena itu, pemujaan di desa muncul dalam catatan bersama upacara pemujaan resmi kerajaan.
Perayaan kerajaan dan ritual perorangan
Raja dan ratu menjadi peserta utama dalam perayaan negara. Mereka turut memastikan bahwa persembahan rutin sampai kepada para dewa. Beberapa perayaan dapat berlangsung selama beberapa hari. Keikutsertaan penguasa menempatkan mereka dalam pekerjaan berulang untuk menjaga hubungan dengan dewa.
Lempeng beraksara paku tentang perayaan merinci bahan yang harus dipersembahkan, tata cara yang harus diikuti, dan tempat pelaksanaan perayaan. Teks-teks ini menyimpan petunjuk konkret. Pemujaan tampak sebagai rangkaian tindakan yang membutuhkan perbekalan, lokasi, dan pelaksanaan yang benar.
Para ahli Het membedakan perayaan bersama yang ditandai EZEN dari ritual yang ditandai SISKUR. Ritual SISKUR menangani masalah tertentu yang dialami seseorang. Pembedaan ini membantu Anda memahami perbedaan antara perayaan bersama dan upacara untuk mengatasi kesulitan orang tertentu. Keduanya merupakan bagian dari praktik keagamaan Het.
Mitologi dan agama bangsa Het
Mitos Telipinu menghubungkan hilangnya seorang dewa dengan terhentinya kesuburan. Telipinu adalah dewa pertanian dan kesuburan. Ketika ia menghilang, tumbuhan dan hewan berhenti berkembang biak. Ketiadaannya memperlihatkan dampak penarikan diri dewa pada makhluk hidup.
Pencarian Telipinu melibatkan sosok kecil yang berperan menentukan. Hannahanna mengutus seekor lebah. Lebah itu menemukan dewa yang hilang dan membangunkannya dengan sengatan. Jadi, makhluk yang menemukan dewa pertanian tersebut adalah seekor lebah, bukan pahlawan manusia.
Salah satu versi kisah Illuyanka mempertemukan sebuah perjamuan, seorang penolong manusia, dan Dewa Badai. Inara mengadakan perjamuan yang membuat ular itu mabuk. Manusia bernama Hupašiya mengikatnya. Dewa Badai kemudian membunuhnya. Kemenangan tersebut bergantung pada beberapa pihak dan tindakan yang dilakukan secara berurutan.
Tradisi kisah Kumarbi mencakup Ullikummi, monster batu yang diperanakkan oleh Kumarbi. Jika disandingkan dengan Telipinu dan Illuyanka, sosok ini menunjukkan keragaman makhluk dalam mitos Het: dewa kesuburan yang menghilang, ular yang menjadi lawan, dan monster yang terbuat dari batu.
Memahami pemujaan di Hattusa dan Yazılıkaya
Kota Bawah Hattusa memiliki Kuil Agung. UNESCO menyebutnya sebagai kuil Het dari abad ke-13 SM yang masih bertahan dengan kondisi paling terawat. Kota Atas memiliki banyak kuil bagi dewa dan dewi dalam jajaran dewa Het dan Hurri.
Yazılıkaya terletak sekitar dua kilometer di timur laut Hattusa. Tempat suci terbuka ini memiliki dua ruang batu alami. Relief-reliefnya memberi Anda cara lain untuk mengenal jajaran dewa: melalui sosok-sosok ilahi yang ditata dalam ruang suci.
Di Ruang A, para dewa pada dinding barat dan para dewi pada dinding timur bergerak menuju adegan utama di sebelah utara. Adegan itu menggambarkan Tešup, istrinya Hepat, dan putra mereka, Šarruma. Dengan mengikuti kedua arak-arakan tersebut, Anda dapat memahami susunan sosok di ruangan itu.
Linimasa
- Sekitar 1650 SM: Negara Het yang berpusat di Hattusa didirikan di daerah aliran Sungai Kızılırmak.
- Abad ke-13 SM: Doa Puduhepa menyamakan Dewi Matahari Arinna dengan Hebat.
- Abad ke-13 SM: Kuil Agung di Hattusa berasal dari masa ini.
Detail yang tidak akan Anda temukan dalam buku panduan
Di Ruang B Yazılıkaya, Tuthaliya IV digambarkan berada di bawah perlindungan dewa pelindungnya, Šarruma. Relief ini menempatkan penguasa yang diketahui namanya dalam hubungan langsung dengan dewa pelindung. Gambaran tersebut memperlihatkan secara konkret ketergantungan raja pada perlindungan ilahi.
Ruang B juga memiliki barisan dua belas dewa pada dinding baratnya. Mereka bergerak ke arah kanan. Ini adalah kelompok tertentu dalam penggambaran di tempat suci tersebut, berbeda dari ungkapan yang lebih luas, “Bangsa Seribu Dewa”.
Sesaji makanan dapat membutuhkan persiapan yang terperinci. Lempeng KUB 27.16 dan KBo 19.142, yang berkaitan dengan pemujaan Ištar, menguraikan persembahan yang berlimpah. Persembahan itu mencakup daging kurban yang disiapkan secara khusus dan penggunaan buah-buahan seperti delima dalam upacara.
Salah satu perayaan untuk dewa-dewa pelindung mencakup penggantian citra pemujaan lama dengan yang baru. Dengan demikian, pemeliharaan keagamaan juga mencakup citra itu sendiri. Selain menyediakan perbekalan bagi rumah dewa dan menjalankan perayaan, pemujaan dapat mengharuskan pembaruan benda yang digunakan dalam praktik keagamaan.
Tanya jawab
Apakah bangsa Het memuja tepat seribu dewa?
Tidak. “Bangsa Seribu Dewa” menggambarkan jajaran dewa yang besar dan beragam. Sebutan itu tidak mencatat jumlah yang pasti. Dewa-dewa dari beberapa tradisi masuk ke dalam agama Het, sementara sebagian dewa setempat mempertahankan identitas tersendiri.
Bagaimana bangsa Het beribadah di luar kuil?
Mereka memberikan persembahan di batu pemujaan huwaši di pedesaan. Sesajinya mencakup bir, anggur, daging, roti, dan keju. Daftar inventaris pemujaan juga mencatat tempat suci dan perayaan di kota-kota serta desa-desa di wilayah provinsi.
Apa peran raja dan ratu?
Mereka menjadi peserta utama dalam perayaan negara dan memastikan persembahan rutin bagi para dewa. Beberapa perayaan berlangsung selama beberapa hari. Lempeng tentang perayaan merinci perbekalan, tata cara, dan lokasi.
Mitos mana yang menghubungkan dewa dengan kesuburan pertanian?
Mitos Telipinu menunjukkan hubungan itu secara langsung. Ketika dewa tersebut menghilang, tumbuhan dan hewan berhenti berkembang biak. Seekor lebah yang diutus Hannahanna menemukannya dan membangunkannya dengan sengatan.
Sumber
- Universitas Marmara — Garis Besar Agama Het openaccess.marmara.edu.tr
- Sema Ayaz — Kajian tentang Menenangkan Para Dewa dalam Masyarakat Het dergipark.org.tr
- Gary Beckman, Cambridge University Press — Agama Het cambridge.org
- Gregory McMahon — Pemujaan Negara Het terhadap Dewa-Dewa Pelindung isac.uchicago.edu
- Michele Cammarosano — Pemujaan Setempat Bangsa Het jstor.org
- Wikipedia — Mitologi dan Agama Het en.wikipedia.org
- Vikipedi — Mitologi Het tr.wikipedia.org
- UNESCO — Hattusa: Ibu Kota Het whc.unesco.org
- Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata — Yazılıkaya ktb.gov.tr
- Universitas Turin — Dewi yang Menuntut: Penggunaan Makanan dalam Ritual Pemujaan Istar oleh Bangsa Het unifind.unito.it
- ISAC Universitas Chicago — Pemujaan Negara Het terhadap Dewa-Dewa Pelindung isac.uchicago.edu
FAQ
Apakah bangsa Het percaya kepada satu dewa?
Tidak. Bangsa Het memuja banyak dewa dari tradisi Hatti, Luwia, Pala, Hurri, dan Mesopotamia. Sebutan “Bangsa Seribu Dewa” tidak menunjukkan jumlah yang pasti.
Bagaimana bangsa Het memuja dewa-dewa mereka?
Mereka merawat kuil, menyediakan makanan dan minuman, mengadakan perayaan, serta menjalankan ritual. Sesaji juga dipersembahkan di batu pemujaan huwaši di pedesaan.
Apa yang terjadi dalam mitos Telipinu?
Telipinu menghilang sehingga tumbuhan dan hewan berhenti berkembang biak. Seekor lebah yang diutus Hannahanna menemukannya dan membangunkannya dengan sengatan.
Apa yang bisa Anda lihat di Yazılıkaya?
Yazılıkaya memiliki dua ruang batu alami. Ruang A menampilkan arak-arakan dewa dan dewi. Ruang B memuat penggambaran Tuthaliya IV di bawah perlindungan Šarruma serta barisan dua belas dewa.
Image: Relief of the Twelve Underworld Gods Chamber B Yazilikaya Hattusa.jpg — Ywpark2003, CC0






