Perang Seratus Tahun dimulai karena raja Inggris memiliki wilayah di Prancis yang berada di bawah kekuasaan raja Prancis. Hubungan ini menimbulkan sengketa kedaulatan. Perselisihan tentang pewaris takhta Prancis membuatnya semakin sulit diselesaikan. Pada 1337, Philippe VI memerintahkan penyitaan wilayah Edward III di Prancis. Keputusan inilah yang memicu perang.
Jika Anda ingin memahami konflik ini, mulailah dari Aquitaine dan sengketa takhta. Edward III memerintah Inggris sebagai raja. Namun, di Aquitaine, ia menguasai wilayah sebagai adipati yang tunduk kepada raja Prancis. Penguasa yang sama pun memiliki kedudukan berbeda di kedua sisi sengketa.
Ringkasan dan pengertian Perang Seratus Tahun
Perang Seratus Tahun adalah serangkaian perang antara Kerajaan Inggris dan Kerajaan Prancis dari 1337 hingga 1453. Pertempuran diselingi gencatan senjata. Meski disebut Perang Seratus Tahun, tahun awal dan akhir yang diterima berjarak 116 tahun.
Konflik ini mempertemukan persoalan hak atas wilayah dengan pewarisan takhta. Raja-raja Inggris berusaha mempertahankan wilayah mereka di Prancis. Edward III juga menuntut takhta Prancis melalui garis keturunan ibunya, Isabella. Namun, para bangsawan Prancis menerima Philippe dari Valois sebagai Raja Philippe VI pada 1328.
Prancis akhirnya menang. Bordeaux menyerah kepada Prancis pada 19 Oktober 1453, setelah kemenangan Prancis di Castillon yang terletak di dekatnya. Pada akhir tahun itu, Calais menjadi satu-satunya wilayah di Prancis yang masih dikuasai Inggris.
Mengapa Aquitaine menjadi penyebab Perang Seratus Tahun?
Masalah dasarnya adalah kedudukan raja Inggris sebagai adipati di Prancis. Kekuasaannya atas Aquitaine berada dalam hubungan yang menempatkan raja Prancis di atasnya. Karena itu, sengketa atas wilayah tersebut dapat berubah menjadi perselisihan tentang siapa yang berhak mengambil keputusan akhir.
Akar ketegangan ini dapat ditelusuri hingga 1066. Pada tahun itu, William, Adipati Normandia, menjadi raja Inggris. Hubungan antara mahkota Inggris dan wilayah yang dikuasai di bawah wewenang Prancis menjadi latar belakang konflik berikutnya.
Perbandingan sehari-hari dapat membantu Anda memahami masalahnya. Bayangkan Anda mengelola sebuah properti, sementara seseorang yang berkedudukan lebih tinggi tetap berhak memeriksa keluhan atas keputusan Anda. Di Aquitaine, rakyat yang mempersoalkan tindakan raja Inggris dapat mengajukan banding kepada atasan feodalnya, yaitu raja Prancis. Hubungan ini membuat persoalan kedaulatan berdampak langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan Philippe VI kepada orang-orang Skotlandia yang berperang melawan Inggris meningkatkan ketegangan dengan Edward III. Kemudian, pada 1337, Philippe memerintahkan penyitaan wilayah Edward di Prancis. Perselisihan lama mengenai wewenang pun berubah menjadi ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaan Inggris.
Mengapa takhta Prancis diperebutkan?
Charles IV dari Prancis meninggal pada 1328 tanpa meninggalkan putra atau saudara laki-laki yang masih hidup. Kematiannya memicu krisis suksesi. Edward III mengajukan klaim melalui Isabella, ibunya yang juga saudara perempuan Charles.
Para bangsawan Prancis memilih Philippe dari Valois, sepupu Charles IV dari pihak ayah. Ia menjadi Philippe VI. Sengketa suksesi ini pun memperhadapkan hubungan kekerabatan Edward melalui ibunya dengan kedudukan Philippe dalam garis keturunan laki-laki keluarga kerajaan.
Pihak Prancis menolak dasar klaim Edward atas takhta. Menurut mereka, Isabella tidak dapat meneruskan hak yang tidak dimilikinya sendiri. Perselisihan ini menyangkut apakah Edward dapat mewarisi takhta melalui ibunya, sekaligus siapa di antara para penuntut yang seharusnya memerintah.
Anda perlu membedakan krisis suksesi dari pemicu langsung perang. Philippe menjadi raja pada 1328. Keputusan penyitaannya muncul pada 1337. Edward secara resmi menyandang gelar raja Prancis pada 1340. Langkah itu mengubah sengketa wilayah menjadi persaingan terbuka antara dua penuntut takhta.
Bagaimana Skotlandia dan Flandria memperuncing konflik?
Philippe VI mendukung orang-orang Skotlandia yang berperang melawan Inggris. Dukungan ini memperburuk hubungannya dengan Edward III. Perebutan wilayah di Prancis pun terhubung dengan konflik lain yang melibatkan raja Inggris.
Flandria menjadi penghubung ekonomi. Kota-kota penghasil kain di sana bergantung pada wol Inggris. Ketergantungan itu turut menopang persekutuan Edward III di kawasan tersebut. Selain sengketa kerajaan, wol dan produksi kain memberi hubungan ini dasar kepentingan ekonomi yang nyata.
Pada 1340, penguasa Ghent, Ypres, dan Bruges mengakui Edward sebagai raja Prancis. Pengakuan ini memungkinkan sekutunya mendukung Edward tanpa menampilkan diri sebagai pemberontak terhadap mahkota Prancis. Mereka dapat menyatakan kesetiaan kepada raja yang mereka akui.
Peta Perang Seratus Tahun: di mana pertempurannya berlangsung?
Untuk mengikuti perang ini melalui peta, Anda dapat memulai dari Inggris dan Prancis, lalu mencari Aquitaine. Kedudukan raja Inggris di sana menjelaskan sengketa kedaulatan yang mengawali konflik. Tambahkan Flandria untuk memahami persekutuan yang terkait dengan wol. Lalu, lihat Skotlandia untuk mengikuti dukungan Philippe VI kepada lawan-lawan Inggris.
Rangkaian peristiwa militernya mencakup pertempuran laut Sluys serta pertempuran darat di Crécy, Poitiers, Agincourt, dan Castillon. Calais dan Orléans juga penting karena mengalami pengepungan. Tempat-tempat ini menunjukkan mengapa peta konflik perlu memuat lebih dari satu lokasi medan perang.
Bordeaux dan Castillon di dekatnya menandai peristiwa-peristiwa terakhir pada 1453. Calais menunjukkan hasil yang berbeda. Pasukan Inggris merebutnya pada 1347. Inggris masih menguasainya ketika wilayah-wilayah lainnya di Prancis telah hilang pada akhir 1453.
Kronologi Perang Seratus Tahun: 1337–1453 dan akar konfliknya
- 1066: William, Adipati Normandia, menjadi raja Inggris. Peristiwa ini membentuk latar belakang ketegangan feodal pada masa berikutnya.
- 1328: Charles IV meninggal. Philippe VI menggantikannya di takhta Prancis.
- 1337: Keputusan Philippe VI untuk menyita wilayah Edward III di Aquitaine memicu perang.
- 1340: Edward menyandang gelar raja Prancis. Inggris memenangkan pertempuran laut Sluys pada 24 Juni.
- 1346: Pasukan Edward III mengalahkan Prancis di Crécy pada 26 Agustus.
- 1347: Calais jatuh ke tangan Inggris pada Agustus setelah pengepungan yang dimulai pada September 1346.
- 1356: Inggris menangkap Raja Jean II dari Prancis di Poitiers.
- 1360: Perjanjian Brétigny menetapkan penyerahan wilayah Prancis yang luas kepada Inggris.
- 1415: Pasukan Inggris di bawah Henry V menang di Agincourt pada 25 Oktober.
- 1420: Perjanjian Troyes, bertanggal 21 Mei, menetapkan bahwa Henry V akan menggantikan Charles VI dari Prancis.
- 1429: Inggris menghentikan pengepungan Orléans pada 8 Mei setelah kampanye militer Prancis yang melibatkan Jeanne d’Arc.
- 1435: Perjanjian Arras mendamaikan Burgundia dengan raja Prancis. Inggris pun kehilangan sekutu penting.
- 17 Juli 1453: Pasukan Prancis mengalahkan Inggris secara telak di Castillon, dekat Bordeaux.
- 19 Oktober 1453: Bordeaux menyerah kepada Prancis. Peristiwa ini menandai akhir perang yang diterima secara umum.
Pertempuran penting dalam Perang Seratus Tahun
Inggris meraih kemenangan besar pada tahap awal di Sluys, Crécy, dan Poitiers. Ketiganya memperlihatkan bentuk keberhasilan militer yang berbeda. Sluys adalah pertempuran laut. Crécy merupakan kemenangan pasukan Edward III. Di Poitiers, Inggris menangkap raja Prancis, Jean II.
Wilayah tetap menjadi persoalan utama setelah kemenangan-kemenangan tersebut. Inggris merebut Calais pada 1347. Perjanjian Brétigny pada 1360 menetapkan bahwa Prancis harus menyerahkan wilayah yang luas kepada Inggris. Kedua peristiwa ini merupakan bagian dari konflik yang bermula dari persoalan wewenang atas wilayah kekuasaan Inggris di Prancis.
Henry V menang di Agincourt pada 1415. Perjanjian Troyes menyusul pada 1420 dan menetapkan bahwa ia akan menggantikan Charles VI. Sekali lagi, jalannya perang menghubungkan keberhasilan militer dengan persoalan siapa yang berhak mewarisi takhta Prancis.
Rangkaian peristiwa berikutnya menguntungkan Prancis. Inggris menghentikan pengepungan Orléans pada 1429. Melalui kesepakatan di Arras pada 1435, Inggris kehilangan Burgundia sebagai sekutu. Kemenangan Prancis di Castillon dan penyerahan Bordeaux melengkapi rangkaian penutup perang yang diterima secara umum pada 1453.
Detail yang tidak Anda temukan dalam buku panduan
Banding dari Aquitaine membuat hubungan feodal terasa nyata. Seorang rakyat yang bersengketa dengan raja Inggris dapat meminta putusan dari raja Prancis. Dengan demikian, perselisihan antarpenguasa menjangkau penanganan sengketa di dalam wilayah yang dikuasai Inggris.
Penjelasan hukum tentang suksesi juga perlu dicermati. Menurut Craig Taylor, para penulis resmi Valois baru mulai menggunakan Hukum Salic untuk menjelaskan suksesi sekitar 1413. Waktunya jauh setelah krisis 1328, meskipun hukum ini sering ditonjolkan dalam kisah-kisah umum tentang penolakan klaim Edward.
Gencatan senjata tidak selalu mengakhiri pekerjaan militer para prajurit. Prajurit Inggris dan Prancis dapat bergabung dengan pasukan tentara bayaran yang disebut Great Companies. Kelompok-kelompok ini melayani berbagai pihak dengan imbalan bayaran. Kegiatan mereka menjadi alasan lain untuk membedakan gencatan senjata dari berakhirnya seluruh dinas bersenjata.
Tanya jawab
Mengapa Perang Seratus Tahun dimulai?
Sengketa kedaulatan atas wilayah Inggris di Prancis berpadu dengan persaingan klaim atas takhta Prancis. Keputusan penyitaan oleh Philippe VI pada 1337 menjadi pemicu langsungnya. Edward III secara resmi menyandang gelar raja Prancis pada 1340.
Kapan Perang Seratus Tahun berlangsung?
Rentang waktu yang diterima adalah 1337–1453, mencakup 116 tahun. Pertempuran diselingi gencatan senjata. Nama tersebut merujuk pada serangkaian perang, bukan pertempuran yang berlangsung tanpa henti sepanjang masa itu.
Di mana Perang Seratus Tahun berlangsung?
Konflik ini melibatkan Inggris dan Prancis. Lokasi peristiwa militernya mencakup Sluys, Crécy, Calais, Poitiers, Agincourt, Orléans, dan Castillon. Aquitaine menjadi pusat sengketa wilayah yang turut menyebabkan perang.
Siapa yang memenangkan Perang Seratus Tahun?
Prancis menang. Pasukannya mengalahkan Inggris di Castillon pada 17 Juli 1453. Bordeaux menyerah pada 19 Oktober. Pada akhir 1453, hanya Calais yang masih dikuasai Inggris di antara wilayahnya di Prancis.
Sumber
- Royal Armouries — Perang Seratus Tahun, 1337–1453 royalarmouries.org
- Oxford Bibliographies — Perang Seratus Tahun, Anne Curry academic.oup.com
- Oxford Bibliographies — Perang Seratus Tahun, Clifford J. Rogers academic.oup.com
- Universitas Swansea — Wales pada Masa Guto’r Glyn: Latar Belakang gutoswales.swansea.ac.uk
- Craig Taylor — Edward III dan Klaim Plantagenet atas Takhta Prancis cambridge.org
- Wikipedia bahasa Inggris — Perang Seratus Tahun en.wikipedia.org
- Wikipedia bahasa Turki — Yüz Yıl Savaşı tr.wikipedia.org
FAQ
Mengapa Perang Seratus Tahun dimulai?
Perang ini berawal dari sengketa kedaulatan atas wilayah raja Inggris di Prancis serta perselisihan tentang pewaris takhta Prancis. Pemicu langsungnya adalah keputusan Philippe VI untuk menyita wilayah Edward III pada 1337.
Kapan Perang Seratus Tahun berlangsung?
Rentang waktu yang diterima adalah 1337–1453, yakni 116 tahun. Pertempuran diselingi gencatan senjata, sehingga konflik ini merupakan serangkaian perang, bukan pertempuran tanpa henti.
Di mana Perang Seratus Tahun berlangsung?
Konflik ini melibatkan Inggris dan Prancis. Pertempuran darat berlangsung antara lain di Crécy, Poitiers, Agincourt, dan Castillon. Konflik ini juga mencakup pertempuran laut Sluys serta pengepungan Calais dan Orléans.
Siapa yang memenangkan Perang Seratus Tahun?
Prancis menang. Pasukan Prancis mengalahkan Inggris di Castillon pada 17 Juli 1453, lalu Bordeaux menyerah pada 19 Oktober. Pada akhir 1453, hanya Calais yang masih dikuasai Inggris di antara wilayahnya di Prancis.
Image: Hundred years war collage.jpg — Blaue Max, CC BY-SA 4.0






